JAKARTA - Setelah mengakuisisi PT Bank Andara, Apro Financial Co. Ltd agresif meningkatkan modal anak usahanya tersebut. Tidak tanggung-tanggung, modal inti Bank Andara dinaikkan hampir 8 kali lipat.
Berdasarkan publikasi laporan keuangan Bank Andara yang terbit Senin (14/8/2017) hari ini, modal inti perseroan naik dari Rp131 miliar pada Juli 2016 menjadi Rp1,05 triliun pada Juni 2017. Hal tersebut menyebabkan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) Bank Andara naik dari 25,67% menjadi 88,49% pada akhir Juni 2017. Rasio CAR Bank Andara jauh lebih tinggi dari rata-rata perbankan nasional yang berada pada posisi 22,7% pada Mei 2017.
Uniknya, sebagian modal inti tersebut digunakan untuk membiayai kredit secara langsung. Sebabnya, dana pihak ketiga (DPK) Bank Andara tercatat hanya Rp165,59 miliar pada akhir Juni 2017 sementara penyaluran kredit menembus Rp1,624 triliun. Penyaluran kredit meningkat 56,9% dibandingkan dengan setahun sebelumnya yang tercatat Rp1,035 triliun.,
Selain itu, ada juga liabilitas yang berasal dari pinjaman bank lain sebesar Rp946,3 miliar. Hal ini mengakibatkan rasio intermediasi (loan to deposit ratio/LDR) Bank Andara pada akhir Juni 2017 menembus 447,9%. Sebagai informasi, Bank Indonesia mengarahkan agar rasio intermediasi perbankan nasional pada kisaran 80%-92%.
Bank Andara mencatatkan laba bersih Rp24,14 miliar pada periode Januari-Juni 2017, sementara pada periode yang sama tahun sebelumnya tercatat masih merugi Rp4,76 miliar. Pendapatan bunga bersih mencapai Rp55,71 miliar dari sebelumnya Rp22,73 miliar.
Perseroan mencatatkan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) pada level 6,49% pada semester-I 2017 sementara setahun sebelumnya masih di kisaran 4,61%. Adapun posisi rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross pada level 1,57%. Bank Andara saat ini dikendalikan oleh Apro Financial dengan kepemilikan mencapai 99%.
(Donald Banjarnahor)