RAHASIA SUKSES: Robin Li, CEO Baidu yang Jadi Garda Depan "Melawan" Google

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis
Sabtu 21 Oktober 2017 18:06 WIB
Ilustrasi (Foto: Reuters)
Share :

JAKARTA -Tidak semua perusahaan teknologi berhasil mendapatkan keuntungan dari perkembangan sektor tersebut. Bahkan, beberapa perusahaan besar seperti Yahoo harus terpuruk lantaran tidak mengikuti cepatnya arus teknologi.

Salah satu kisah Yahoo yang terkenal adalah kala dia menolak ide Google, yang kini menjadi perusahaan teknologi terbesar dunia. Namun selain Google, ada perusahaan lain di China yang juga meraih kesuksesan karena mengembangkan search engine yakni Baidu yang didirikan oleh Robin Li.

Li lahir di Yanhong pada 1968, kota yang sebelumnya berpenduduk 200 mil barat daya Beijing. Anak keempat dari lima bersaudara tersebut dibesarkan selama Revolusi Kebudayaan brutal China.

Terlepas dari penindasan yang mengelilinginya, dia tetap fokus pada hobinya yakni mengumpulkan perangko. Meski demikian, dia cukup cerdas untuk masuk ke sekolah paling bergengsi di negara itu, Universitas Beijing, di mana dia berkecimpung dalam ilmu komputer.

Sayangnya, saat terjadi demonstrasi pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen pada 1989, pemerintah China memutuskan untuk menutup kampus mereka. Setahun kemudian dia mulai berpikir untuk belajar di luar negeri dan pada saat dia lulus pada 1991 dia siap untuk meninggalkan tanah airnya.

Menurutnya, China adalah tempat yang menyedihkan, karena tidak memiliki harapan. Dia pun mendaftar ke tiga program pascasarjana teratas dalam ilmu komputer di Amerika. Frustasi karena tidak mengerti, dia pun mengirimkan 20 lamaran ke berbagai Universitas. Namun, hanya SUNY Buffalo yang kemudian bersedia menerima dia.

Li pun masuk ke sana dan mendapatkan gelar Ph.D. dalam ilmu komputer. Dia kemudian menyelesaikan gelar masternya pada 1994 dan bergabung dengan divisi New Jersey dari Dow Jones & Company, di mana dia membantu mengembangkan program perangkat lunak untuk edisi online The Wall Street Journal.

Dia pun terpikat pada boom teknologi yang terbentuk di Silicon Valley. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memecahkan salah satu masalah awal industri Internet: memilah informasi.

Terobosan datang pada 1996, ketika dia mengembangkan mekanisme pencarian yang dia sebut "analisis tautan", yang melibatkan penentuan peringkat popularitas Web situs berdasarkan berapa banyak situs Web lain yang terkait dengannya.

Segera setelah itu, dia pun menghadiri sebuah konferensi komputer di Silicon Valley dan mendirikan gerai sendiri guna menunjukkan temuan pencariannya. William I. Chang, yang saat itu adalah chief technology officer di Infoseek, bertemu dengan Mr. Li di konferensi dan merekrutnya untuk mengawasi pengembangan mesin pencari.

Namun, kisah sesungguhnya Baidu berawal pada musim panas 1998 di Silicon Valley, Eric Xu, seorang ahli biokimia berusia 34 tahun, mengenalkan temannya Robin Li kepada John Wu, yang kemudian menjadi tim di mesin pencari Yahoo.

Li pada waktu itu, adalah seorang insinyur yang frustrasi di Infoseek, mesin pencari Internet yang sebagian dimiliki oleh Disney. Seperti Disney, Wu dan Yahoo juga kehilangan minat terhadap prospek bisnis search engine dan mengalihkan lini bisnis tersebut ke sebuah startup kecil bernama Google.

Namun, pengalamannya di Yahoo membuat dia tetap optimistis terhadap bisnis search engine. Oleh karena itu, ketika orang-orang di Yahoo tidak menganggap pencarian itu penting, Li bertekad untuk tetap bertahan.

Setahun kemudian, Li pun mendirikan perusahaan pencari sendiri di China, menamainya Baidu. Saat ini, Baidu memiliki nilai pasar sebesar USD3 miliar dan mengoperasikan situs Web keempat yang paling banyak diperdagangkan di dunia. Dan Baidu melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh perusahaan internet lain: meneror Google dan Yahoo di pasar mereka seniri.

Dengan pemerintah China yang kerap melarang pertumbuhan internet di negaranya, dia pun harus berjuang mengembangkan Baidu. Namun, dengan penduduk China mencapai populasi 1,3 miliar, dan sekira 130 juta di antaranya adalah pengguna internet, maka China menjadi pasar online yang terbesar setelah Amerika.

Meski demikian, Baidu pun berhasil meyakinkan pemerintah China untuk membantu mereka melakukan sensor di situs Web-nya. Baidu pun mendominasi situs pencari di China karena mendapat dukungan dari pemerintah China, dan memblokir Google.

Saat ini, tidak ada perusahaan internet di China yang tumbuh secepat Baidu, yang memiliki lebih dari 50% pasar pay per click. Meski begitu, Baidu menghadapi tantangan yang signifikan. Baidu menghadapi tantangan hukum, termasuk tuntutan hukum yang mengklaim bahwa mereka melanggar undang-undang hak cipta pada musik.

Baidu telah dituntut atas masalah ini, karena memberikan link ke situs yang menawarkan file musik bajakan. Namun, mereka mengatakan tidak harus bertanggung jawab karena hanya menawarkan link ke situs lain.

Tapi, pasar China yang dipenuhi dengan prospek perusahaan teknologi, perusahaan Internet Amerika telah gagal mendominasi di sini. Pada 2003, eBay membeli perusahaan pelelangan terbesar di China, tapi tetap gagal mendominasi. Senada, pada 2004 Amazon membeli merchandiser online Cina terbesar, tapi tetap saja kalah.

Dan sekarang, Google membangun tim peneliti besar di Beijing, tidak jauh dari markas Baidu. Namun analis mengatakan tidak akan mudah bagi Google untuk mengambil pasar Baidu.

(Fakhri Rezy)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya