JAKARTA - Industri ritel Indonesia tengah dalam kondisi sulit. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ritel modern yang berguguran dari mulai Matahari, Ramayana hingga yang terbaru adalah Lotus dan Debenhams.
Menanggapi hal tersebut Ketua Asosiasi Perusahaan Pemasok Pasar Modern Indonesia Susanto mengatakan pihaknya sama sekali tidak terpengaruh dengan beberapa ritel modern yang belakangan ini tutup.
Menurutnya, pihaknya tidak hanya memasok kepada satu ritel modern saja melainkan ke beberapa tempat lain juga. Oleh karena itu jika salah satu ritel tutup, pasokan ke tempat lain akan terus berjalan. Karena dirinya menjual dengan channel yang banyak.
Baca juga: Mendag Ungkap 3 Faktor Penyebab Pedagang Kecil Kalah dari Ritel, dari Becek hingga Mahal
"Kami pengusaha pemasok pasar modern. Kami bisa jual ke supermarket, Departement Store sampai pasar tradisional. Kita jual dengan channel yang banyak. Jadi bagi kami ritel berguguran ini tidak terlalu bermasalah," ujarnya dalam acara diskusi "Sejumlah Retailer Berguguran, Apakah Ini Akhir Dari Industri Ritel Konvensional?" kata dia di Hotel Ibis Harmoni, Jakarta, Rabu (1/11/2017).
Meski begitu, dirinya mengakui ada beberapa produk yang mengalami kelesuan. Hal itu terlihat dari mulai berkurangnya minat pengusaha ritel yang menurunkan minatnya terhadap produk tersebut.
"Memang ada kelesuan, produk tertentu berkurang minatnya. Semua ada waktunya. Dulu crocs banyak orang namgantri berlantai-lantai, sekarang banyak tutup," jelasnya.
Baca juga: Banyak Toko Ritel Berguguran, OJK: Tak Bikin Kredit Macet di Perbankan
Meskipun adanya penurunan, dirinya enggan menyalahkan bisnis online. Karena menurutnya, bisnis online merupakan alternatif untuk mempermudah masyarakat dalam berbelanja.
"Maupun pakai cara online itu hak konsumen. Itu kemudahan dan alternatif bagi masyarakat," jelasnya.
(Rizkie Fauzian)