Jika sistem operasional navigasi penerbangan dilakukan dengan sistem teknologi digital modern, lanjut dia akan mampu menurunkan biaya navigasi penerbangan sehingga operasional bandara lebih efisien.
"Swedia telah mengembangkan teknologi remote tower ATS dan sudah diujicobakan di beberapa bandara. Jadi Swedia mempunyai pengalaman dalam implementasi remote tower ini. Kita bisa belajar dan saling berbagi pengalaman dengan Swedia," katanya.
Yudhisari berharap dari workshop hari ini, Ditnavpen bersama dengan operator atau AirNav Indonesia dapat menyusun suatu konsep kedepan dan mengetahui seberapa mungkin mengaplikasikan atau menganalisis untung dan ruginya model remote tower ATC bila diterapkan di Indonesia.
Saat ini Organisasi Penerbangan Internasional (ICAO) terus membut lokakarya terkait praktik rekomendasi dan standar di bidang remote aircraft (drone) dan juga remote ATS, termasuk di dalamnya terkait remote tower ATC.
Selain Swedia, beberapa negara yang telah melakukan uji coba teknologi remote tower ini dengan sukses adalah Australia, Amerika Serikat, Belanda, Norwegia dan Irlandia.
(Rizkie Fauzian)