Alutsista Menantang Dunia, Ini Daftar Negara yang Pakai Kapal Perang Buatan Indonesia

Koran SINDO, Jurnalis
Minggu 17 Desember 2017 20:32 WIB
Ilustrasi: (Foto: Antara)
Share :

Tidak hanya menerima pesanan luar negeri, PT PAL Indonesia juga memproduksi alutsista untuk dalam negeri. Salah satunya untuk TNI Angkatan Laut (AL) berupa kapal perusak kawal rudal (PKR) KRI I Gusti Ngurah Rai-332 yang canggih dengan desain stealth atau siluman sehingga memiliki kemampuan mengelabui sistem radar.

Dalam pembuatan kapal, PT PAL Indonesia menggandeng galangan kapal asal Belanda, Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS). Proses pembuatan kapal perang ini dilakukan dengan pembangunan sistem moduler yang terbagi dalam enam modul. Satu modul di antaranya dikerjakan di Belanda, sedangkan lima modul lain dikerjakan PT PAL Indonesia.

Direktur Utama (Dirut) PT PAL Indonesia Budiman Saleh mengatakan, pembangunan kapal PKR dengan program transfer of technology (ToT) ini menyerap kurang lebih 200 tenaga kerja di PT PAL Indonesia. Tenaga kerja itu terdiri atas berbagai disiplin keilmuan.

Dari jumlah tersebut, sekitar 75 orang di antaranya dididik digalangan kapal Damen Schelde- Vlisingen Belanda. Alih teknologi itu sesuai amanat UU Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan dan Keputusan KKIP Nomor KEP/12/KKIP/ XII/ 2013 tentang Lead Integrator Alutsista Matra Laut.

“Kapal PKR ini wujud ke bang gaan kepada bangsa untuk memper tahankan kedaulatan bangsa,” ujarnya.

Di luar penyediaan alutsista, PT PAL Indonesia juga memperkenalkan produk inovasi dari pengembangan barge mounted power plant 30 megawatt, yaitu powership (kapal pembangkit listrik) Indonesia dengan kelas mermaid dengan kapasitas 36-80 MW yang dikerjakan dengan pola strategic collaboration dalam pembangunan powership de ngan Karadeniz Holding (Turki).

Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati menuturkan, PT PAL Indonesia yang sudah meng eks por peralatan tempur dan kapal perang merupakan suatu pencapaian yang amat bagus dan bernilai strategis tinggi. Hal itu, menurut dia, sesuai dengan visi Presiden Joko Widodo yang menjadikan negara kita sebagai Poros Maritim Dunia.

Poros Maritim Dunia merupakan visi Pemerintah Indonesia yang banyak mendapat apresiasi dunia.“Visi tersebut bahkan disejajarkan dengan ini siatif Pemerintah China dengan One Belt One Road,” ujar Nuning—panggilan akrab Susaningtyas.

Nuning mengatakan, inti dari Poros Maritim Dunia adalah menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik sebagai jalur perdagangan laut internasional. Mengenai daya saing dengan institusi global di bidang teknologi perkapalan, menurut dia, PT PAL Indonesia harus menjalankan proses bench marking (tolok ukur) dengan negara-negara produ sen lain yang telah lebih dulu memiliki produk yang sama dan berkualitas baik.

Tidak lupa harus selalu belajar dan selalu melakukan inovasi agar tidak ketinggalan zaman dan menghasilkan produk terbaik. “Manajemen dan SDM (sumber daya manusia) PT PAL Indonesia juga harus ditingkatkan kualitasnya, jangan hanya ber-mindset jago kandang dan malas berinovasi,” tutur Nuning.

Sementara itu ahli militer Laksamana Muda TNI Dr Amarulla Oktavian, ST, MSc, DESD mengutarakan, kiprah produk PT PAL Indonesia yang semakin diakui dan dibeli negara lain merupakan sebuah kemajuan teknologi bagi negara kita.

Kedepannya, lanjut dia, melalui sambungan telepon, perusahaan pelat merah ini mesti me lakukan proses efisiensi manajemen agar kinerja dan kualitas produknya tetap tinggi. Proses ef i siensi tersebut meliputi penyediaan bahan baku yang sesuai de ngan spesifikasi teknis, memperhitungkan dana pro duksi serta mencari SDM yang lebih terampil dalam merancang dan membangun kapal modern.

“Dengan mengaryakan SDM yang merancang sendiri tanpa bantuan pihak lain, tentu ini akan menghemat biaya dan lebih murah. Uangnya juga tidak kemana-mana, masuk ke kantong anak negeri,” imbuh Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan (FMP) Universitas Pertahanan (Unhan) ter sebut.

Amarulla mengatakan, SDM Indonesia memang perlu ditingkatkan kualifikasinya. Di luar negeri misalnya, pekerjaan sederhana seperti mengelas kapal umumnya berasal dari seorang doktor, beda dengan yang dipekerjakan di Tanah Air. (Rendra Hanggara)

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya