BI Sebut Nilai Tukar Rupiah Stabil di Sepanjang Tahun 2017

Giri Hartomo, Jurnalis
Jum'at 29 Desember 2017 18:44 WIB
Foto: Giri/Okezone
Share :

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyatakan selama periode tahun 2017 nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terdepresiasi sekitar 0,8%. Meskipun begitu, BI menilai nilai tukar rupiah masih relatif aman dan dalam kondisi baik.  

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan, alasan mengapa dirinya menilai rupiah aman karena angka depresiasi  tersebut masih berada di angka 1% yang merupakan batas aman. Yang mana saat ini nilai tukar Rupiah tetap berada di kisaran Rp 13.500 per USD.

Baca Juga: Libur Panjang Akhir Tahun, Rupiah Menguat Rp13.553/USD Pagi Ini

"Tahun lalu rupiah mengalami apresiasi 2,3% nah sekarang depresiasi di bawah 1% untuk Rp 13.509 itu kecil. Jadi stabilitasnya tetap terjaga," ujarnya saat ditemui di Komplek Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (29/12/2017).

Menurut Agus, saat ini stabilitas nilai tukar rupiah masih terjaga stabilitasnya. Karena menurut catatannya, tahun lalu volatilitasnya berada di angka 8% sedangkan pada tahun ini hanya sekitar3,1%. 

Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat Tipis Rp13.554/USD

"Volatilitasnya lebih rendah dibandingkan tahun kemarin. Tahun lalu 8% kalau tahun ini kan 3,1%," jelasnya. 

Sebagai informasi, Dari data BI tahun lalu (2016) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS adalah mata uang yang terbaik kedua setelah Yen Jepang. Saat itu Yen Jepang terapresiasi 2,85% kemudian, rupiah 2,25%, kemudian diikuti oleh Thailand Baht yang terapresiasi 0,5%. 

Baca Juga: Rupiah Bergerak Landai di Rp13.558/USD

Sedangkan mata uang negara tetangga seperti Malaysia Ringgit terdepresiasi 4,53%, Filipina Peso 5,67%, Dolar Singapura 2,14%, Won Korea 2,66%, Yuan China 6,95%, Rupee India 2,46%.

Nilai tukar juga mempengaruhi cadangan devisa RI, tahun ini data terakhir per November 2017 berada di posisi USD125 miliar meningkat dibanding akhir tahun lalu USD116 miliar.

Yang mana cadangan Devisa Indonesia pada periode November 2017 sendiri mencapai USD125,9 miliar. Jumlah tersebut sangat cukup untuk membiayai 8,1 bulan impor.  

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya