Ratu Prabu Ingin Bangun LRT, Ini 3 Syarat dari Menko Luhut

Giri Hartomo, Jurnalis
Senin 08 Januari 2018 15:07 WIB
Menko Bidang Maritim Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI) berminat untuk membangun proyek Light Rail Transit (LRT). Presiden Direktur PT Ratu Prabu Energi Burhanuddin Nur Maras pun mempresentasikan proyek LRT tersebut kepada Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.

Menteri Koordinator (Menko) bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengaku senang jika ada swasta yang ingin dan ikut membantu pemerintah dalam membangun infrastruktur (LRT). Menurutnya, pemerintah akan sangat terbuka dan menyambut dengan tangan terbuka jika ada pihak swasta yang menunjukan keseriusannya tersebut.

"Saya enggak tahu (Ratu Prabu ingin bangun LRT). Kalau memang itu ada, dia bawa duit sebesar itu silakan saja. Kita senang mana saja yang bawa duit banyak," ujarnya saat ditemui di Kator Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Senin (8/1/2018).

Baca juga: Dibangun Sepanjang 223 Km, Rute LRT Ratu Prabu Bakal Lalui Bekasi hingga Tangerang

Menurut Luhut, bagi pihak swasta seperti Ratu Prabu yang ingin berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur, pemerintah memiliki tiga kriteria. Yang pertama adalah teknologi yang dibawa dan digunakan haru ramah lingkungan. "Misalnya Tiongkok, kalau teknologinya bagus, kenapa enggak? ," ucapnya.

Kedua adalah perusahaan tersebut harus menggunakan sebanyak mungkin masyarakat Indonesia. Dengan demikian, maka akan ada pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh tenaga profesional milik perusahaan tersebut.

"Mungkin dalam tiga atau empat tahun pertama masih banyak yang dari dia karena kualitas vokasi kita untuk operasional training kan jelek. Itu kan terjadi bukan hanya satu atau dua tahun ini tapi sekian puluh tahun. Sekarang sedang kita perbaiki," katanya.

"Nah dalam tiga sampai empat tahun ini dia harus membuat training atau pendidikan ini, siapa pun dia. Karena kalau kita mengandalkan orang Indonesia sendiri nanti enggak selesai. Karena memang kan (yang mau bangun proyek) harus selesai sesuai schedule," tutur dia.


Baca Juga: Sandi Beberkan ke Menteri Rini Keseriusan Ratu Prabu Garap LRT di Jakarta

Selanjutnnya, investor juga harus bisa membangun dari hulu ke hilir dan bisa melakukan transfer teknologi. Sebagai contohnya adalah produk nikel yang bisa diubah menjadi stainles yang memiliki nilai tambah hingga 100 kali lipat.

"Ketiga, harus bisa hulu ke hilir dan transfer teknologi. Transfer teknologi seperti di kereta api, kita enggak mau lagi. Jadi jangan bilang nanti di luar katanya Tiongkok kuasai kita? Di mana kuasasi kita? Dia masih nomor 4 kan di dunia," jelasnya.

Sebagai informasi, sebelumnya Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengungkapnya bahwa total Investasi untuk Megaproyek itu senilai USD25 miliar atau setara Rp 350 triliun hingga Rp400 triliun. Perseroan akan mengajak serta investor asing guna menggarap proyek LRT.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya