Stok Beras Capai 21.000 Ton, Cukup untuk Seluruh Jakarta

Giri Hartomo, Jurnalis
Senin 19 Februari 2018 15:57 WIB
Menteri Perdagangan Enggartisto Lukita. (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Direktur Utama Food Station Arief Prasetyo Adi memastikan stok beras yang ada di Pasar Induk Cipinang cukup untuk memasok di seluruh wilayah Jakarta selama dua bulan ke depan. Saat ini, stok beras yang ada di Pasar Induk Cipinang sebanhak 21.000 ton beras.

“Saya laporkan stok beras yang ada dikami saat ini sebesar 21.000 ton. Apakah ini cukup ? Insya Allah ini cukup untuk memasok ke seluruh Jakarta,” ujarnya saat ditemui di Kantor Food Station Pasar Induk Cipinang, Jakarta, Senin (19/2/2018).

Menurut Arief, jumlah pasokan akan terus bertambah seiiring panen yang sudah terjadi di sejumlah daerah. Pada pagi ini saja, ada tambahan pasokan sebanyak 4.000 ton beras yang berasal dari Sulawesi Selatan. “Sampai jam 7 pagi tadi ada tambahan pasokan sudah 4.000 ton dari Sulawesi Selatan. Jadi kemarin itu mereka mengurus centra produksinya dulu,” jelasnya.

Baca juga: Beras Impor Masuk tapi Harga Masih Mahal? Ini Kata Mendag

Belum lagi, lanjut Arief, Jawa Barat pun mulai memasok hasil produksinnya. Meskipun harga gabah kering dari Jawa Barat masih relatf lebih mahal dari Sulawesi Selatan.

Sementara untuk harga gabah kering di Sulawesi Selatan, dijual seharga Rp4.400 per kilogram. Sedangkan harga jual gabah kering asal Jawa Barat dijual dengan harga Rp5.100 per kilogram. “Dari jawa barat juga sudah mulai lagi masuk tapi harganya udah mulai turun tadinya Rp6.000 sekarang Rp5.100,” jelasnya.

Sementara itu, lanjut Arief, untuk beras impor nantinya pihaknya akan menunggu arahan dari Meneri Perdagangan. Ketika diputuskan untuk dikeluarkan maka pihaknya akan menampung beras impor tersebut untuk disalurkan ke sejumlah pedagang. “Tadi pak Menteri sampaikan kalau beras impor untuk stok di Bulog,” ucapnya.

Baca juga: Mulai Panen, Mentan Bentuk Tim untuk Jaga Harga Gagah di Tingkat Petani

Sebelumnya, Kementerian Pertanian (Kementan) diminta memperbaiki data stok beras nasional agar tidak salah dalam mengambil kebijakan. Apabila salah dalam mengambil keputusan, akan mengancam ketahanan pangan.

Direktur Centre For Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi menuturkan, kebijakan impor beras sejatinya menunjukkan ada yang salah dari pengelolaan produksi beras untuk ketahanan pangan.

Selama ini, kata Uchok, Kementan selalu mengklaim terjadi surplus beras. Namun, kenyataannya harga beras di pasaran tinggi dan stok beras pemerintah di gudang Bulog juga minim.

Akhirnya pemerintah mengambil opsi impor beras sebanyak 500.000 ton untuk mengamankan ketersediaan pangan nasional. Kondisi ini mengindikasikan data yang disajikan Kementan memang tidak valid.

Senada, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai, kegaduhan soal data produksi beras yang ternyata berbeda dari klaim Mentan Amran Sulaiman, yang mengatakan surplus, merupakan kesalahan fatal. Dia melihat kesalahan ini sulit dimaafkan sehingga perlu dilakukan evaluasi total terhadap kinerja sang menteri.

Anggota DPR asal Partai Gerindra Bambang Haryo sebe lumnya juga menilai, pemerin tah tidak konsisten dalam me wujudkan swasembada pangan. Beberapa kali importasi terpaksa masih jadi pilihan untuk memenuhi ke butuhan pangan nasional.

Menurut Bambang, ada beberapa faktor yang membuat Indonesia belum juga men capai swasembada. Salah satunya tidak ada koordinasi antara Kementan dan kementerian teknis lainnya.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya