"Ini untuk berikan sinyal ke pelaku pasar finansial dan investor portofolio bahwa BI bisa gunakan berbagai cara untuk pertahankan Rupiah dan hentikan outflows (arus keluar dana asing)," jelasnya.
Menurutnya kenaikan seharusnya mencapai 50 bps untuk menstabilkan Rupiah. Kendati demikian, pilihan 25 bps dilakukan BI untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Sebab kenaikan 25 bps takkan memberikan dampak negatif terlalu besar terhadap pertumbuhan ekonomi.
"Kalau bisa 50 bps malah lebih baik, tapi mungkin BI concern juga dengan growth (pertumbuhan ekonomi)," pungkasnya.
Untuk diketahui, sejak awal 2016 hingga saat ini Bank Sentral telah menurunkan 7-Days Repo Rate secara bertahap mencapai 200 basis points (bps). BI juga telah menahan suku bunga acuannya di level 4,25% terus-menerus sejak Oktober 2017 hingga April 2018, atau 7 bulan berturut-turut.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)