JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) anjlok dan akhirnya menembus level paling dalam yakni Rp14.500 per USD. Pada pagi tadi, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS menyentuh angka Rp14.525 per USD.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Industri Hulu dan Petrokimia Achmad Widjaja mengatakan, ada beberapa hal yang menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah. Faktor pertama adalah faktor Indonesia yang masih menjadi negara berkembang.
Menurutnya, faktor Indonesia sebagai negara berkembang akan sangat mudah untuk di intervensi oleh negara lain. Meskipun saat ini, kondisi perekonomian Indonesia memang relatif lebih bagus dibandingkan yang lalu.
Artinya memang, kondisi perekonomian global sangat amat mempengaruhi nilai tukar rupiah. Apalagi ditambah adanya kebijakan dari negara lain yang semakin membuat nilai tukar rupiah semakin melemah.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp14.500, Ini Analisa Menko Darmin
"Rupiah itu kan sehubungan dengan kita sebagai negara yang percaya bahwa kita punya perekonomian sudah mantap lah. Sehingga tidak mungkin ada intervensi-intervensi dari luar. Sedangkan Indonesia bagian dari pada negara pertumbuhan, selalu diganggu fund manager mau masuk ke mana manapun dia tahu untuk melemahkan kita," ujarnya dalam sebuah diskusi di Hotel Melia Kuningan, Jakarta, Jumat (20/7/2018).
Faktor yang kedua adalah kurangnya dorongan Indonesia terhadap sektor industri. Namun yang dimaksud kurangnya dorongan adalah bukan dalam hal insentif ataupun yang lainnya. Yang dimaksud adalah pemerintah sangat tidak mementingkan hulu di sektor Industri. Sehingga, Indonesia masih terus berpegang pada impor dan impor.
Semakin besar impor yang dilakukan oleh pemerintah maka akan semakin melemah pilah nilai tukar Rupiah terhadap Dolar. Sebab, semakin banyak impor maka kebutuhan dolar akan meningkat, sedangkan kebutuhan akan rupiah akan menurun.
"Kedua industri kita itu bahwa penopang ekspornya itu tidak kuat domestiknya juga terlalu mengharapkan impor sehingga itulah menjadi jatuhnya industri kita ke depan. Karena apa? Karena impornya itu gede terus dikasih," jelasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)