JAKARTA - Indonesia terancam menjadi negara importir kopi. Padahal beberapa waktu lalu dan sepanjang sejarah, Indonesia selalu menjadi negara eksportir kopi terbesar di dunia bersama dengan Brazil.
Menyikapi hal ini, Wakil Ketua Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Pranoto Soenarto menilai, ancaman menjadi negara importir tersebut menyusul konsumsi kopi dalam negeri yang begitu besar sedangkan produksi dalam negeri stagnan.
Adapun produk kopi Indonesia adalah 630.000 ton per tahunnya. Dari jumlah 630.000 ton tersebut, sekitar 430.000 hingga 450.000 ton diekspor ke luar negeri.
Sementara sisanya adalah untuk kebutuhan dalam negeri dan bisa terus meningkat. Sedangkan saat ini nilai impor kopi Indonesia masih sekitar 1%.
"Itu yang tadi kita bicarakan karena produksi dalam negeri kita ini stagnan. Dalam arti produktifitasnya kita ini rendah," ujarnya saat berbincang dengan Okezone, Rabu (8/8/2018).
Oleh karena itu, lanjut Pranoto, hal tersebut harus lebih ditingkatkan jika ancaman menjadi negara importir kopi jadi kenyataan. Salah satunya adalah dengan cara meningkatkan produksi lebih produktif lagi.
"Ya sebetulnya kita harus perbaiki bersama. Dalam arti kita memperbaiki produktivitas kopi Indonesia.
Mengenai produktivitas kopi Indonesia, saat ini hanya sekitar 600-800 kilo per hektar. Hal tersebut jomplang jika dibandingkan daerah-daerah penghasil kopi di Indonesia yang bisa mencapai 2 ton.
"Dibandingin dengan kopi-kopi dari Vietnam ada yang 4 ton. Dibandingin dengan Brazil ada yang 8 ton rata-ratanya ada yang 11 ton total deferent jauh sekali bedanya," jelasnya.
Pranoto menyebut program clusterisasi yang dicanangkan pemerintah bisa menjadi solusi untuk meningkatkan produksi. Namun hal tersebut harus diiringi dengan peningkatan kualitas dari kopinya itu sendiri.
"Bisa ningkatin. Cuma kalau ngomong kluster-kluster ini kan berarti mereka main baru dan tanam baru. Tapi kita semua kan pemain lama kopi ini sekarang yang ada ini kan sudah berlangsung lama dari jaman Belanda apa kan lama lama. Di mana produksi kita ini sudah sangat stagnan," jelasnya.
(feb)
(Rani Hardjanti)