Begini Cara RI Hadapi Serbuan Baja Impor

Giri Hartomo, Jurnalis
Jum'at 23 November 2018 17:38 WIB
Ilustrasi (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Industri baja dalam negeri di beberapa bulan terakhir mengalami tekanan. Hal tersebut menyusul adanya serbuan baja impor yang dikarenakan adanya perang dagang antara Amerika Serikat dengan China.

Direktur Utama PT Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, adanya tekanan pada baja impor ini membuat perseroan menyiapkan beberapa langkah. Salah satunya adalah dengan ekspansi melalui pembangunan pabrik Hot Striping Mill (HSM) yang kedua atau pabrik baja lembaran panas kedua di Cilegon, Banten.

 Baca Juga: BUMN Karya Sepakat Pakai Baja Krakatau Steel

Saat ini progres konstruksi fisiknya sudah mencapai 86,83% per September 2018 Kalimantan. Ditargetkan proyek ini bisa rampung pada Kuartal III-2018. .

Rampungnya proyek ini bisa menambah kapasitas sebesar 1,5 juta ton per tahun dan akan rampung pada kuartal III-2019. Sehingga total kapasitas rolling akan mencapai 3,9 juta ton per tahun.

"Berkembangnya industri baja memang harus seiring berkembangnya satu industri, belakangan ini mengalami cobaan yang cukup besar dampaknya kepada industri baja nasional. Sehingga Ibu Menteri BUMN mengembalikan kejayaan industri baja nasional khususnya Krakatau Steel," ujarnya di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (123/11/2018).

 Baca Juga: BUMN Kontruksi Tak Sepenuhnya Gunakan Baja Lokal

Selain itu, perseroan juga melakukan pembangunan kluster 10 juta ton baja di Cilegon. Kluster 10 juta ton ini ditargetkan akan rampung pada 2025 mendatang.

Selain itu untuk mendorong program efesiensi produksi, perseroan melakukan pembangunan Blast Furnace. Progres pembangunan Blast Furnace juga telah menunjukan sesuatu hasil yang menggembirakan.

 Baca Juga: Perang Dagang ala Trump Untungkan Industri Baja, Ini Penjelasannya

Pada 16 Oktober lalu, dilakukan pemanasan tungku blast stice yang merupakan tahapan penting dari beroperasinya keseluruhan pabrik Blast Furnaxe Complek. Pabrik ini akan melakukan produksi perdananya atau First Blow pada 20 Desember 2018 mendatang.

"Ini jadi tanda baik bhwa ke depan industri baja nasional akan semakin baik. Walaupun peraturan-peraturan harus disempurnakan agar mendukung industri baja nasional," jelasnya.

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya