Polemik Kenaikan Harga Tiket Pesawat yang Dianggap Belum Tepat

Koran SINDO, Jurnalis
Rabu 13 Februari 2019 11:11 WIB
Pesawat (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA – Kenaikan harga tiket pesawat oleh sejumlah maskapai sejak beberapa bulan terakhir tidak banyak memberikan dampak positif.

Kebijakan ini justru menimbulkan efek berantai yang panjang, mulai sepinya penumpang, pengurangan frekuensi penerbangan, hingga lesunya pariwisata dalam negeri. Kenaikan harga tiket pesawat dinilai tidak proporsional.

Besaran kenaikan yang mencapai rata-rata 100% membuat masyarakat keberatan. Mereka kaget karena tidak menyangka kenaikan sedemikian cepat dan sangat besar. Upaya maskapai yang tergabung dalam Indonesia National Air Carrier (Inaca) merespons keluhan masyarakat dengan menurunkan tarif antara 20-60% pada pertengahan Januari lalu, juga tidak banyak memberikan pengaruh.

Baca Juga: Presiden Jokowi Buka Peluang Swasta Jual Avtur

Penurunan diketahui hanya terjadi di sejumlah rute penerbangan. Di banyak rute lain, tiket dianggap masih selangit. Maskapai awalnya sangat berharap tarif baru dan pengenaan biaya bagasi bisa menutup biaya operasional yang melonjak akibat menguatnya dolar Amerika Serikat terhadap mata uang rupiah dan tingginya harga avtur.

Namun, niatan itu tidak mulus. Lantaran sepi penumpang, maskapai justru mengurangi sejumlah rute penerbangan. Di Bandara Hang Nadim Batam misalnya, pada Kamis (7/2) lalu setidaknya ada 14 penerbangan yang dibatalkan karena jumlah penumpang menurun drastis.

Pembatalan dilakukan hampir semua maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, Wing Air, Citilink. Pengurangan frekuensi penerbangan ini tidak terelakkan. Sejumlah penumpang terpaksa membatasi naik pesawat terbang lantaran tarif baru yang tidak bersahabat.

Suwondo, pegawai negeri sipil Kementerian Keuangan yang bertugas di Kota Palembang, tidak lagi bisa bolak-balik ke Jakarta tiap pekan. Sebelum ada kenaikan tarif, tiket Lion Air termurah dibanderolRp350.000.

Namun harga baru saat ini, besaran tiket mencapai Rp860.000. Harga tidak jauh beda juga diterapkan Sriwijaya Air yang mencapai sekitar Rp700.000- an. “Demi menghemat, saya akhirnya pulang paling cepat dua pekan sekali,” ujar warga yang tinggal di Ciputat, Tangerang Selatan ini.

Keberatan juga disampaikan Hojin, pelanggan maskapai untuk jalur Jakarta-Pekan baru. “Harga tiket via platform online sebelum ada kenaikan untuk LionAir sekitar Rp584.000 sampai Rp650.000. Kini dengan maskapai yang sama, harganya menjadi Rp1.120.000. Ada 100% kenaikannya,” ujar dia.

Kenaikan pada maskapai Lion Air yang mencapai 100%, juga terjadi pada Batik Air, Citilink, dan Garuda Indonesia. Akibat kenaikan harga tiket tersebut, penumpang saat ini harus menghitung tingkat urgensinya guna melakukan perjalanan dengan jalur udara.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya