“Kami biasanya bisa tiga minggu sekali pulang-pergi Jakarta-Pekanbaru. Kini kami kurangi 5-6 minggu sekali,” ujar dia. Hojin berharap kenaikan tiket pesawat mestinya diatur secara proporsional dan bertahap agar konsumen tidak terbebani secara mendadak.
Apalagi, kenaikan yang hampir 100% ini tentunya akan berdampak pada sektor ekonomi lainnya, misalnya pariwisata dan okupasi hotel. Soal lesunya pariwisata juga dikeluhkan langsung Menteri Pariwisata Arif Yahya.
Di Lombok, NTB misalnya, angka kunjungan anjlok drastis hingga menyisakan 30%. “Saya ingatkan juga ke rekan industri, ini tidak hanya memengaruhi industri airlines. Ujungnya dulu, semua dirugikan. Industri pariwisata dirugikan,” ujar Arief di Jakarta, Senin (11/2).
Baca Juga: Jumlah Penumpang Pesawat Turun Gara-Gara Tiket Mahal?
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sukamdani juga menegaskan bahwa kenaikan tiket sangat berimbas pada sektor pariwisata khususnya bisnis hotel, restoran dan usaha mikro kecil menengah (UMKM), petani sayur, dan peternak ayam.
Dampaknya panjang, karena rantai bisnis pariwisata itu memang mengakar sampai dasar. “Jangan sampai terjadi kartel di industri pesawat terbang. Faktanya, Pak Menhub Budi Karya Sumadi sudah memanggil industri airlines, Inaca, tetap saja bandel, turunnya dikit. Masyarakat masih menjerit, padahal ketua Inaca adalah dirut Garuda yang juga BUMN,” ujar Hariyadi.
Keganjilan soal tingginya tiket ini juga dilontarkan Presiden Joko Widodo.“Ini memang aneh. Saya dapat penghargaan sebagai Bapak Pariwisata Indonesia, padahal harga tiket mahal,” terang Presiden saat menghadiri Gala Dinner 50 Tahun PHRI di Jakarta, Senin (11/2) malam. Adapun dalam pandangan Wakil Presiden Jusuf Kalla, kenaikan tiket pesawat disebabkan adanya persaingan yang tidak sehat antarmaskapai yang sebelumnya berlomba menjual tiket penerbangan harga murah.
Dia menjelaskan, tiket penerbangan komersial dengan harga murah memang menguntungkan dengan mendapat banyak peminat penumpang, namun keuntungan itu hanya berlaku dalam jangka pendek. “Jangka panjangnya kalau mereka tidak bisa beli pesawat, akhirnya kita yang kena juga,” kata dia di Jakarta kemarin.
Akibat persaingan tidak sehat itu, industri transportasi udara di Indonesia banyak yang berguguran. Kini industri ini didominasi dua perusahaan besar, yakni PT Garuda Indonesia (persero) dan PT Lion Mentari Airlines.
Adapun pemerintah ada pada posisi sebagai regulator. “Menurut saya, (ini) bukan kartel, karena mereka terlalu murah akhirnya yang lain mati. Jadi bukan karena didesain, tapi karena mereka mencoba-coba masuk airlines dengan tarif murah, ya mati,” katanya.