Wacana IPO Persija Jakarta hingga Neraca Perdagangan Masih Defisit USD1,16 Miliar

Giri Hartomo, Jurnalis
Senin 18 Februari 2019 09:06 WIB
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) menerima laporan ada beberapa klub sepak boladalamnegeri yang berencana melantai di bursa saham (Initial Public Offering/IPO). Salah satunyaadalah PT Persija Jaya Jakarta (Persija Jakarta). 

Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada Januari 2019 mengalami defisit sebesar USD1,16 miliar. Defisit ini lebih tinggi dari realisasi pada Desember 2018 yang defisit sebesar USD1,03 miliar.

Kemudian ada reaksi Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution yang menanggapi pernyaatan Calon Presiden nomor urut 02 tentang harga beras Indonesia yang mahal. Menurut Darmin, dibandingkan negara jepang, harga beras di Indonesia relatiflebih murah.

Ketiga berita tersebut merupakan berita-berita populer selama akhir pekan kemarin di kanal Okezone Finance. Berikut berita selengkapnya:

Persija Berencana IPO, BEI: Kami Siap Bantu


Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan siap mendukung dan membantu rencana PT Persija Jaya Jakarta (Persija) melantai di bursa saham pada tahun ini.

Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi mengatakan menyambut baik rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) Persija tersebut dan menilainya sebagai sebuah langkah maju.

"Kami siap mendukung dan membantu prosesnya lebih baik. Ini kan pionir, pasti ada proses yang harus betul-betul dipastikan supaya mereka tidak kesulitan," ujar Hasan dilansir dari Antaranews.com, Senin (11/2/2019).

Menurut dia, dengan menjadi perusahaan terbuka yang tercatat di bursa, hal tersebut tidak hanya dapat mendorong kinerja Persija tapi juga diharapkan dapat meningkatkan aspek tata kelola dan akuntabilitas di mata publik.

"Apalagi untuk segmen industri Persija, yang kepemilikan dan keterikatannya dengan publik cukup tinggi," ujarnya.

Secara umum, kata dia, sebelumnya BEI pernah membahas soal kemungkinan industri kreatif, termasuk Persija, untuk dapat masuk ke pasar modal. Hasan menilai industri kreatif perlu dibantu dari sisi kepatuhan (compliance) dan pemenuhan standar akuntansinya.

"Karena ini industrinya unik ya. Kami juga sebetulnya ada pembicaraan dengan Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) untuk katakanlah nanti pada saatnya akan terbit semacam standar akuntansi untuk industri kreatif," katanya.

Untuk dapat melakukan IPO, layaknya perusahaan lain yang sudah tercatat di BEI, Persija juga harus memenuhi persyaratan pencatatan saham di BEI baik dari sisi bentuk badan hukum, masa operasional, laba usaha, aset bersih yang dapat diukur (net tangible aset), dan pendapat laporan keuangan audit dua tahun terakhir.

"Sekarang persyaratannya sama, tidak ada pembedaan secara khusus. Nanti apakah mereka layak katakanlah di papan utama atau pengembangan, kita lihat prosesnya," ujar Hasan.

Hasan menambahkan, rencana IPO Persija ini dapat menjadi inspirasi baik bagi klub sepakbola lainnya atau industri kreatif lainnya, yang selama ini memiliki nilai (value) di mata publik luas karena memiliki basis penggemar fanatik dan besar.

"Di balik penggemar yang besar itu, ada value karena fanatisme publik pendukungnya sebetulnya secara going concern atau prospek pertumbuhan jangka panjang itu cukup menjanjikan. Tinggal tata kelola dan transparansi informasi ke publik, terutama dalam konteks kinerja keuangan harus kita benahi," kata Hasan.

Sebelumnya, Direktur Utama Persija Kokoh Afiat mengatakan Persija akan melantai di bursa saham dengan melakukan IPO sebelum akhir Desember 2019. Dengan berada di bursa saham, Persija berharap dapat menambah pundi-pundi pendapatan mereka yang beberapa tahun terakhir dinilai "merah".

BPS: Neraca Perdagangan Januari 2019 Defisit USD1,16 Miliar


Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada Januari 2019 mengalami defisit sebesar USD1,16 miliar. Defisit ini lebih tinggi dari realisasi pada Desember 2018 yang defisit sebesar USD1,03 miliar.

Defisit awal tahun 2019 ini juga lebih tinggi bila dibandingkan dengan neraca perdagangan Januari 2018 yang defisit USD75 juta.

"Bila dibandingkan defisit di Desember 2018 agak meningkat sedikit," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Gedung Pusat BPS, Jakarta, Jumat (15/2/2019).

Pria yang akrab disapa Kecuk ini menjelaskan, kondisi neraca perdagangan Januari 2019 dipicu defisit pada sektor minyak dan gas (migas) maupun nonmigas.

Di mana pada sektor migas mengalami defisit sebesar USD454,8 juta. Di dorong defisit pada minyak mentah sebesar USD383,6 juta dan hasil minyak defisit USD981,1 juta, sedangkan gas mengalami surplus USD909,9 juta.

"Adapun sektor nonmigas mengalami defisit lebih besar yakni USD704,7 juta," katanya.

Secara rinci, posisi ekspor Indonesia pada Januari 2019 mencapai USD13,87 miliar, sedangkan realisasi impor lebih tinggi yakni mencapai USD15,03 miliar.

Harga Beras RI Disebut Tertinggi di Dunia, Menko Darmin: di Jepang Lebih Mahal


Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menepis jika harga beras dan daging ayam di Indonesia menjadi tertinggi di dunia. Hal ini sekaligus membantah pernyataan dari calon Presiden nomor 02, Prabowo Subianto.

Menurut Darmin, secara penjualan ritel, harga beras di Jepang masih lebih mahal ketimbang di Indonesia.

"Coba saja beli di Jepang kalau enggak harganya 2 kali, 3 kali lipat dari kita," ujarnya di Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (15/2/2019).

Dia mengatakan, harga beras Thailand di perdagangan internasional memang lebih murah, namun tidak benar jika secara ritel harga beras di Indonesia lebih mahal.

Menurutnya, harga beras seharusnya tidak dibandingkan secara internasional. Sebab, ada beberapa negara yang merupakan negara penghasil beras sehingga menjual beras dengan murah untuk tujuan ekspor.

"Harga kalau di ritel siapa bilang termahal? Tapi kalau di perdagangan internasional memang harga di Thailand itu murah, tapi itu tidak ada di internasionalnya," jelasnya.

Seperti diketahui, dalam kunjungannya ke Blora, Kamis 14 Februari, Prabowo mengklaim harga beras Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di dunia.

"Beras di Indonesia jadi salah satu tertinggi di dunia, demikian daging juga tertinggi di dunia,” katanya.

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya