NEW DELHI – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuka perang dagang baru dengan rencana mencabut perlakuan dagang istimewa untuk India. Keistimewaan dagang itu berupa bebas bea masuk untuk produk-produk senilai USD5,6 miliar yang masuk ke AS dari India. Pencabutan itu pun akan mengakhiri keistimewaan tersebut.
India menyebut dampak langkah AS itu tak terlalu besar bagi New Delhi dan tidak akan membahas isu itu dalam perundingan antara kedua negara. Meski demikian, oposisi dapat memanfaatkan isu itu untuk mengecam Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi menjelang pemilu tahun ini. Trump berulang kali menyebut India untuk tarif dagang yang tinggi.
Baca Juga: Gubernur BI Soroti Pertumbuhan Ekonomi Amerika
Para pejabat perdagangan AS juga menjelaskan, pencabutan keistimewaan itu akan berlaku paling cepat 60 hari setelah pemberitahuan ke Kongres dan Pemerintah India. Langkah ini diambil Trump sebagai pelaksanaan janjinya untuk memangkas defisit perdagangan AS.
“Saya mengambil langkah ini karena setelah dialog intensif antara AS dan pemerintah India, saya telah menentukan bahwa India tidak menjamin AS bahwa mereka akan memberi akses adil dan masuk akal ke pasar India,” tutur Trump pada para pemimpin kongres dalam suratnya dilansir Reuters.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi AS 2018 Gagal Capai Target
India merupakan penerima manfaat terbesar di dunia dari Sistem Preferensi Umum (GSP) sejak 1970-an dan mengakhiri partisipasi New Delhi menjadi langkah hukuman terkuat terhadap India sejak Trump menjabat presiden. Reuters bulan lalu melaporkan rencana AS tersebut saat Washington dan Beijing diperkirakan segera membuat kesepakatan untuk mencabut tarif AS pada produk China senilai USD200 miliar. Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) menyatakan pencabutan India dari GSP tidak akan berlaku paling cepat 60 hari setelah notifikasi.
“Diskusi berlangsung dengan AS dan ikatan yang kuat dan baik, kita menghindari pembalasan tarif,” ungkap Menteri Perdagangan India Anup Wadhawan di New Delhi. Menurut Wadhawan, per lakuan istimewa yang dinikmati India hanya memberi keuntungan tahunan USD190 juta. Sebanyak 3.700 produk masuk dalam perlakuan istimewa itu dan India hanya menggunakan konsesi untuk 1.784 produk.
“Manfaat untuk industri itu rendah, tarif AS juga sudah rendah. GSP lebih sebagai simbolis dalam hubungan strategis, bukan dalam nilai,” kata pejabat Pemerintah India lainnya secara anonim.