“Melalui kegiatan ini, kami berupaya dan berkomitmen memfasilitasi para pelaku usaha kayu ringan agar dapat memperluas pasar ekspornya, khususnya ke Vietnam. Mengingat meningkatnya kebutuhan Vietnam akan kayu ringan sebagai bahan baku industri furni tur dan pangsa ekspor kita yang masih relatif kecil ke negara ini,” ujarnya. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama dengan Indonesia Light Wood Association (ILWA) dan Swiss Import Promotion Programme (SIPPO) Indonesia. Kegiatan ini terdiri atas beberapa rangkaian di antaranya kunjungan ke pameran Vietnam International Furniture & Home Accesories (VIFA).
Pada ajang VIFA kali ini Indonesia diwakili lima perusahaan furnitur. VIFA merupakan pameran furnitur terbesar di Vietnam yang diikuti sekitar 400 peserta dan dikunjungi sekitar 15.000 orang dari berbagai negara. Rangkaian kegiatan lainnya yaitu pertemuan antara mitra BSO, SIPPO Indonesia, dan SIPPO Vietnam. Kegiatan ini mempertemukan perusahaan Indonesia dengan anggota asosiasi Handicraft and Wood Industry Association (HAWA), Binh Duong Furniture Association (BIFA), dan Forest Product Association (FPA). Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Kemendag Marolop Nainggolan mengatakan, selama ini nilai tambah produk kayu ringan asal Indonesia masih didominasi China dan hanya sedikit yang diolah di Indonesia.
Sebagian besar produk kayu ringan Indonesia diekspor ke China dalam bentuk setengah jadi. Setelah diolah, China mengekspor kembali produk kayu ringan ini ke negara lain, seperti Amerika Serikat, negara-negara di kawasan Eropa, serta Vietnam. “Kegiatan ini diperkirakan akan memberikan nilai tambah bagi sektor kayu ringan Indonesia untuk pasar produk inovasi kayu ringan sehingga bisa dinikmati para pelaku usaha kita,” katanya.
(Oktiani Endarwati)
(Kurniasih Miftakhul Jannah)