Permintaan kompensasi terbaru itu terjadi sehari sebelum Badan Penerbangan Federal AS (FAA) menjadi tuan rumah regulator global di Dallas untuk memeriksa ulang soft ware dan proposal pelatihan 737 Max sebelum regulator memutuskan untuk mengakhiri penghentian operasional. Sementara seorang janda asal Prancis Nadege Dubois-Seex yang suaminya tewas dalam kecelakaan Boeing 737 Max di Etiopia, mengajukan gugatan terhadap Boeing di AS. Dia meminta ganti rugi minimal USD276 juta. Puluhan keluarga telah menggugat Boeing terkait kecelakaan Lion Air. Beberapa gugatan juga telah diajukan terkait kecelakaan di Etiopia.
Gugatan atas nama Nadege Dubois-Seex telah diajukan ke Pengadilan Distrik Chicago AS. Suami Dubois-Seex adalah warga Swedia dan Kenya bernama Jonathan Seex yang merupakan eksekutif di Tamarind Group of Companies. Gugatan yang diajukan pada Senin (20/5) itu menuduh Boeing gagal menginformasikan kepada para pilot dengan tepat tentang berbagai risiko yang dimiliki software untuk mencegah 737 Max mengalami stall yang justru berulang kali membuat hidung pesawat menukik turun akibat data sensor yang salah. Jaksa AS Nomaan Husain menjelaskan dalam konferensi pers di Paris bahwa kliennya meminta ganti rugi minimal USD276 juta.
“Kami telah mempelajari bahwa Boeing bergantung pada sensor tunggal yang sebelumnya telah dilaporkan dalam lebih 200 laporan insiden yang diajukan ke FAA,” ujar Husain. Dua juru bicara Boeing di Eropa tidak membalas pesan untuk memberikan komentar. Adapun juru bicara Boeing di AS tidak merespons permintaan komentar terkait gugatan itu. “Keluarga kami telah kehilangan ksatria yang bersinar dan dunia telah kehilangan entrepreneur brilian,” ungkap Dubois- Seex.
(Syarifudin)
(Kurniasih Miftakhul Jannah)