BI Punya Peluang Turunkan Suku Bunga

, Jurnalis
Selasa 18 Juni 2019 12:52 WIB
Ilustrasi: Shutterstock
Share :

JAKARTA – Bank sentral klaim masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan atau BI Seven Day Reverse Repo Rate. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan ruang tersebut untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tahun ini. Menurutnya, ruang penurunan suku bunga juga sejalan dengan kondisi inflasi yang relatif stabil pada awal tahun 2019.

“Jadi kalau mempertimbangkan inflasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang perlu didorong, memang kami sudah tahu bahwa ada ruang untuk menurunkan suku bunga,” kata Perry dilansir dari Harian Neraca, Selasa (18/6/2019).

Walau begitu, pihaknya terus mencermati kondisi pasar keuangan global serta angka neraca pembayaran nasional. Perry menambahkan, masih berlangsungnya ketidakpastian global tersebut membuat BI menahan suku bunga pada bulan Mei lalu. “Kami masih mencermati kondisi pasar keuangan global dan neraca pembayaran Indonesia dalam mempertimbangkan terbukanya ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif sejalan dengan rendahnya inflasi dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri,” jelas Perry.

Baca Juga: BI Diprediksi Turunkan Suku Bunga Acuan

Sebagai informasi, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada periode Mei 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk, David Sumual menuturkan, peluang suku bunga acuan BI turun 50:50. Hal ini mengingat banyak pertimbangan baik dari domestik dan eksternal pengaruhi langkah BI. "BI 7 day reverse repo rate turun masih 50:50. Banyak faktor pengaruhi. Dari domestik memang kondisi kita relatif baik dengan S&P menaikkan peringkat Indonesia sehingga membuat imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun turun," ujar David.

Selain itu, inflasi Mei 2019 sebesar 0,68% relatif terkendali meski tinggi karena faktor musiman. Akan tetapi, David menyoroti defisit transaksi berjalan yang masih besar pada kuartal I 2019. Tercatat defisit transaksi berjalan mencapai USD7 miliar atau 2,6% dari produk domestik bruto (PDB). Diperkirakan defisit transaksi berjalan masih terjadi pada kuartal II 2019. Ditambah cadangan devisa Mei 2019 turun USD4 miliar jadi USD120,3 miliar, menurut David juga menjadi pertimbangan.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya