Baca Juga: Sri Mulyani: BI Bakal Turunkan Suku Bunga
Sedangkan dari eksternal yang bayangi keputusan penetapan suku bunga acuan, menurut David, faktor penyelesaian perang dagang juga menjadi perhatian pasar. Diharapkan pada pertemuan G20 pada akhir Juni ada kesepakatan perang dagang antara AS dan China. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump juga menyatakan kalau pihaknya akan menaikkan tarif impor produk China bila Presiden China Xi Jinping tidak mau hadir dalam pertemuan G20.
Dari sentimen eksternal lainnya yaitu ketegangan di Timur Tengah membuat harga minyak menguat. Sentimen tersebut membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah. "Pada penutupan Jumat (kemarin-red) rupiah di kisaran 14.300 per dolar AS. Rupiah masih volatile ke depan,” kata dia. Meski demikian, David menilai, peluang suku bunga acuan turun juga besar. Namun, hal itu tergantung dari keputusan The Fed pada pekan depan pada 18-19 Juni 2019.
Di pasar berjangka AS, Fed Fund Rate atau suku bunga acuan the Fed diprediksi turun kemungkinan di bawah 40% pada Juni. Akan tetapi, kemungkinan penurunan suku bunga pada Juli dan Agustus meningkat. Bahkan prediksi pada September dapat mencapai hampir 100%. "The Fed turunkan suku bunga acuan, BI bisa turunkan suku bunga acuan," kata David.
David prediksi, jika BI pangkas suku bunga acuan, penurunannya sekitar 25 basis poin (bps). Hingga akhir 2019, diprediksi suku bunga acuan BI bisa turun capai 50 bps. Namun, David menilai BI harus hati-hati turunkan suku bunga acuan. Hal ini mengingat dampaknya terhadap pergerakan rupiah. "Harus hati-hati dan lihat konsekuensi serta kepercayaan pasar. Kalau salah langkah rupiah akan volatile. Kita juga masih butuh pasokan dana mengingat tidak terlalu berharap banyak pada ekspor karena pertumbuhan ekonomi global melemah," kata David.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)