JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2019. Kini suku bunga acuan BI menjadi 5,75% dari level 6%.
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menyatakan, pelonggaran kebijakan moneter ini pun memberikan angin segar bagi perbankan. Dirinya berharap tren penurunan suku bunga masih bisa berlanjut ke depannya.
"Kita gembira BI sudah menurunkan bunga 25 bps, tapi memang bunga deposito BCA sudah diturunkan 25% sejak 1 Juli. Kita harap The Fed juga menurunkan bunga, dan ke depannya diharapkan bunga bisa turun lagi," ujarnya dalam konferensi pers di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (24/7/2019).
Baca Juga: Sinyal Kuat BI Kembali Turunkan Suku Bunga pada Semester II
Menurutnya, penurunan suku bunga ini menjadi sinyal positif di tengah tantangan perbankan menghadapi likuiditas yang ketat. Kata Jahja, saat ini perbankan harus sangat berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Sebab, menengok loan to deposits ratio (LDR) industri yang terus bergerak naik ke level 96% (year on year/yoy) per Mei 2019.
"Ini harus hati-hati melepas kredit harus optimal, karena likuiditas ketat. Dengan LDR industri terus bergerak dari 94% kini 96%, ini pas kalau pertumbuhan kredit pas-pasan. Kalau agresif tapi sumber dananya kecil, ya susah," ujarnya.
Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Sempat Tekan Investasi
Jahja mengaku masalah likuiditas bukan hal sepele sehingga harus jadi fokus perbankan. Pertumbuhan kredit industri hingga Mei 2019 mencapai 11,2%, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) secara industri hampir tidak ada pertumbuhan alias flat yakni 0,7% yoy.
“Jadi ini menggambarkan betapa ketatnya likuiditas di pasar, kalau kredit terus digenjot. Ya seharusnya santai saja, kredit sesuai permintaan pasar, disalurkan secara prudent (hati-hati), yang bagus dan prospektif, enggak usah digenjot-genjot," ujarnya.