Sampah Bisa Jadi Tabungan Emas, Simak Kiatnya

Yohana Artha Uly, Jurnalis
Minggu 28 Juli 2019 18:22 WIB
Foto: Bank Sampah Pegadaian (Yohana/Okezone)
Share :

YOGYAKARTA - Sampah kini bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan emas. Itu yang ditawarkan Pegadaian dalam programnya yang dikenal The Gade Clean & Gold.

Dengan menggaet bank sampah yang menyebar di seluruh Indonesia, Pegadaian menawarkan pada para nasabah untuk menukarkan sampahnya menjadi investasi emas.

Kepala Divisi Kemitraan Bina Lingkungan Pegadaian Hertin Maulida menyatakan, dalam program ini nasabah bank sampah hanya perlu menyetorkan sampah yang sudah di pilah ke bank sampah, lalu akan dihitung nilai sampah tersebut berdasarkan jenisnya. Nilai hasil sampah inilah yang akan dikonversi menjadi tabungan emas.

Baca Juga: Jemput Barang Gadai, Pegadaian Jamah Layanan Digital

"Sehingga tujuannya selain meningkatkan kebersihan di lingkungan, juga tingkatkan inklusi keuangan. Serta meningkatkan sumber penghidupan," ujar dia di The Gade Village, Balkondes Ngargigondo Malangan, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (28/7/2019).

Dia menyatakan, saat ini Pegadaian sudah bekerjasama dengan 54 area bank sampah. Dari area bank sampah tersebut sudah sudah ada 4.615 nasabah yang tergaet, dengan jumlah nilai emas mencapai lebih dari 760 gram.

Hertin menyatakan, rencananya hingga akhir tahun dapat memperluas kerjasama hingga 59 area bank sampah. "Sebenarnya kita bisa kembangkan menjadi 61 bank sampah, tapi dalam RKAP (rencana kerja dan anggaran perusahaan) tahun ini memang ditargetkan 59 bank sampah," ungkapnya.

Salah satu bank sampah yang menjadi binaan Pegadaian adalah Bank Sampah Panggung Lestari, yang berlokasi di Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Bank sampah yang sudah beroperasi sejak tahun 2013 ini, terus mendorong nasabahnya yang sebanyak 1.800 untuk memiliki tabungan emas. Program yang digagas sejak 3 bulan yang lalu itu sudah berhasil mengkonversi 250 tabungan nabasah menjadi tabungan emas.

Kepala Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Panggung Lestari Eko Pambudi menyatakan, sampah anorganik diambil setiap minggunya dari bank sampah di tingkat RT. Kemudian, akan kembali dipilah sesuai jenisnya secara lebih detail untuk nantinya dijual ke pengepul.

Baca Juga: Masuk Penyumbang Dividen Terbesar, Pegadaian Setor Rp2,82 Triliun ke RI

Ada beragam nilai pada sampah daur ulang tersebut, seperti paling murah ada botol sirup seharga Rp150 per kilogram (kg), seng seharga Rp400 per kg, serta pralon Rp700 per kg. Sedangkan yang nilainya tertinggi di antaranya kardus Rp1540 per kg, sak semen Rp1.960 per kg, serta alumunium Rp7.700 per kg.

"Rata-rata nasabah tabungannya minimal Rp5.000 per minggunya, atau per bulannya bisa mencapai Rp30.000," ungkapnya.

Eko menyatakan, dalam program ini nasabah memang di edukasi untuk menabung jangka panjang, setidaknya selama 10 tahun. Lantaran, menabung emas memang merupakan investasi jangka panjang, sehingga hasil yang didapatkan bisa maksimal.

"Karena tingkat kesejahteraan warga desa itu salah satunya dengan punya tabungan di hari tua," kata dia.

Sementara itu, Kepala Desa Panggungharjo Wahyudi Anggoro Hadi menyatakan, lewat program tabungan emas ini semakin banyak warganya yang giat menabung di bank sampah. Warga desa kian tertarik menjaga lingkungannya sambil berinvestasi emas.

"Program ini kan mulai tahun 2019, sebelumnya hasil sampah ini nilainya menjadi tabungan Rupiah, tapi itu kurang mendorong warga. Sebab nilai ekonomisnya memang rata-rata Rp30.000 per bulan, tidak seimbang dengan upaya memilah sampah, dan sebagainya. Tapi dengan dijadikan tabungan emas, maka meningkatkan nilai sosial mereka, sehingga membuat lebih bertanggung jawab menjaga lingkungan," jelas dia.

Menurut Wahyudi, tabungan emas memang membantu warga untuk meningkatkan tata kelola keuangan keluarga mereka, sebab seiring waktu berjalan nilai emas terus bertambah dan memberikan keuntungan.

"Tabungan emas tidak hanya mendorong pengelolaan lingkungan yang bertanggungjawab, tapi juga memperbaiki tata kelola keuangan keluarga. Jadi literasi lingkungan dan keuangnya," katanya.

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya