Dia menjelaskan bahwa akarnya adalah persoalan logistik yang mana salah satunya adalah ketiadaan akses untuk petani mengangkut hasil kebun dengan efisien.
“Itu semua adalah persoalan logistik, kami dengan Kementerian Pertanian mengembangkan kontainer sebesar tiga ton, yang ukurannya tiga kaki agar bisa masuk ke desa-desa. Jadi ini yang harus dipikirkan dan diselesaikan,” kata Dodo.
Menurut dia basis logistik yang andal dan praktis akan membantu semua pihak untuk mendapatkan produk terbaik dengan harga yang bagus pula sehingga berbagai produk dari desa bisa sampai ke konsumen dengan harga relatif terjangkau.
"Dengan kata lain, harus ada upaya memotong mata rantai logistik yang terlalu panjang dan berbelit, agar petani atau nelayan terbantu mendistribusikan produknya," ujarnya dikutip Antaranews.
Selain itu, Dodo juga menggarisbawahi persoalan kurasi produk yang masih menemui hambatan. Padahal, proses kurasi adalah satu tahap yang sangat penting sebelum sebuah produk bisa dianggap layak jual atau ekspor.
“Saya berharap teman-teman di perusahaan rintisan dan marketplace tak hanya menunggu teman-teman UKM mendaftar tapi bisa secara bersama. Kami siap untuk kerja sama, mulai dari kurasi, dan lain-lain, karena pemerintah tidak bisa kerja sendiri,” kata Dodo.
(Dani Jumadil Akhir)