JAKARTA – Harga avtur digadang-gadang menjadi batu sandungan tingginya harga tiket pesawat. Keberadaan swasta pun diharapkan bisa membuat harga avtur menjadi kompetitif. Pasalnya, selama ini avtur dikelola oleh BUMN. Namun ada desas-desus bahwa keterlibatan swasta sengaja diganjal oleh perusahaan pelat merah. Benarkah?
Ditanya soal kabar burung tersebut, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyatakan, tidak ada upaya untuk menghambat masuknya perusahaan swasta dalam matarantai penjualan avtur di dalam negeri. Hal ini sekaligus membantah keluhan pelaku usaha terkait lambatnya kedatangan pemain baru pada bisnis bahan bakar pesawat tersebut.
Baca juga: Ada BUMN yang Ganjal Swasta Jual Avtur?
"Tidak betul," tegasnya di Kantor Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Selasa (10/12/2019).
Saat ini atur hanya didistribusikan oleh PT Pertamina (Persero). Sejak isu perusahaan swasta bisa masuk menjadi penyalur avtur pada awal tahun 2018 lalu, ada dua perusahaan yang bersedia yakni PT AKR Corporindo Tbk dan British Petroleum, namun hingga kini belum terealisasikan.
Baca juga: Swasta Saingi Pertamina Jual Avtur, Ini Catatan Erick Thohir
Menurut Luhut, pemerintah tengah mengevaluasi distribusi penjualan avtur oleh pihak swasta. Lantaran, diminta untuk memperluas wilayah distribusinya, termasuk menjual avtur hingga ke wilayah Indonesia Timur.
"Seperti sekarang AKR baru tiga tempat enggak fair dong. Jadi kami mau evaluasi, mesti bisa sampai ke Indonesia Timur," ungkapnya.
Baca juga: Batal Bahas Harga Avtur, Luhut Gelar Pertemuan dengan Petinggi Golkar
Pemain baru dalam bisnis penjualan avtur memang bertujuan menghilangkan potensi monopoli harga oleh Pertamina yang menjadi pemain tunggal. Perusahaan energi pelat merah itu disebut-sebut membuat harga avtur dalam negeri tidak kompetitif.