JAKARTA - Bank Sentral 4.0 menjadi salah satu strategi dalam mendorong inovasi dalam ekonomi dan keuangan digital untuk memperkuat daya saing dan kepentingan nasional. Bank Sentral 4.0 juga bisa mempersempit kesenjangan masyarakat.
Dalam kuliah umum di London, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, bank sentral telah menyusun arah kebijakan Sistem Pembayaran Indonesia ke depan melalui peluncuran Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025: Menavigasi Sistem Pembayaran Nasional di Era Digital.
Baca juga: BI: Aliran Modal Asing yang Masuk RI Capai Rp220,9 Triliun
Pada kesempatan tersebut, Perry juga menyampaikan bahwa sinergi bauran kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan akan terus diperkuat untuk mendukung ketahanan ekonomi nasional.
“Perang dagang antara AS dan China dan kebijakan perdagangan global lainnya yang mencirikan tren penurunan globalisasi telah berdampak pada volume perdagangan dunia dan pertumbuhan ekonomi global,” katanya di London School of Economics (LSE), dikutip Selasa (11/2/2020).
Baca juga: Indonesia 'Diguyur' Aliran Modal Asing Rp217 Triliun
Di sisi lain, digitalisasi ekonomi dan keuangan telah merambah ke berbagai segmen ekonomi. Ekonomi dan keuangan digital berkembang secara pesat dalam berbagai bentuk layanan keuangan fintech maupun layanan keuangan digital unbundling di luar bank maupun lembaga keuangan lainnya yang dapat berpotensi menciptakan shadow banking.
Hal tersebut juga turut berdampak pada longgarnya mekanisme transmisi moneter, dan meningkatnya risiko terhadap stabilitas moneter dan keuangan. Perilaku pelaku ekonomi juga telah berubah terutama didorong oleh generasi milenial. Dua hal tersebut menjadi tantangan bagi bank sentral dalam memberikan respons guna menjaga stabilitas perekonomian.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)