JAKARTA – Bisnis minuman anggur mengkhawatirkan dampak virus korona. Di mana merebaknya virus tersebut ke sejumlah negara, mempengaruhi kebijakan perdagangan AS yang sedang kacau.
Melansir VOA Indonesia, Rabu (4/3/2020), bisnis minuman anggur sebenarnya tengah meningkat usai terhindar dari ancaman tarif, ketika pemerintah Amerika Serikat menunda pemberlakuan tarif impor yang sangat tinggi untuk minuman anggur dari Eropa.
Baca Juga: Selain China, Pengusaha Makanan Juga Khawatirkan Impor dari Korsel dan Italia
Namun, pada pameran dagang di New York, industri minuman tidak tampak gembira. Merebaknya wabah virus korona membuat kebijakan perdagangan AS kacau.
Kesuraman pasar Inggris pasca-Brexit dan melimpahnya pasokan minuman anggur California di antara produk anggur terkemuka dalam pameran Vinexpo.
Baca Juga: Bill Gates Sebut Virus Korona Bisa Jadi Paling Mematikan dalam Abad Ini
Sebagai informasim pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif 100% atas semua impor anggur Eropa, setelah AS memenangkan sengketa perdagangan panjang sekitar subsidi Eropa untuk pembuatan pesawat Airbus.
Namun Pemerintah AS batal menjalankan ancaman akan menaikkan tarif impor itu, setelah para importir, pengecer dan tokoh-tokoh industri melakukan berbagai upaya lobi.
Meski demikian, pemerintah memberlakukan tarif 25% atas anggur dari Perancis, Jerman, Inggris dan Spanyol pada Oktober, pungutan yang mempengaruhi arus barang.
(Feby Novalius)