JAKARTA - Ekonom menyebut stimulus fiskal yang diberikan pemerintah untuk sektor industri masih di bawah 10%. Hal ini akan memengaruhi kinerja industri yang mencoba bangkit dari covid-19.
Direktur Eksekutif the Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, penyaluran stimulus fiskal untuk industri perlu dipercepat, sehingga sektor industri bisa langsung lari kencang.
Baca Juga: UMKM Bisa Ikut Program Pelatihan Online, Bisa Dapat Sertifikat
Apalagi, selama ini sektor Industri berkontribusi besar pada perekonomian nasional. Sedangkan, saat ini pemerintah sedang terus mendorong agar ekonomi tidak jatuh terlalu dalam akibat Covid-19.
"Dalam kondisi ini harusnya dipercepat. Karena ini sebagai basic industri ini sangat besar hampir 18-19% kalau ini di-push akan lebih cepat," ujarnya dalam Market Review IDX Channel, Rabu (17/6/2020).
Baca Juga: 60,5 Juta Pelaku Usaha Ultra Mikro Sudah Menerima Kredit
Ada beberapa masalah yang membuat stimulus fiskal ini berjalan lambat dalam penerapannya. Pertama adalah masalah administrasi.
Kemudian yang kedua adalah anggaran yang digunakan untuk stimulus fiskal lambat. Mengingat, pemerintah menarik dana untuk pemberian stimulus dari Surat Berharga Negara (SBN).
"Kita ada kekhawatiran ruang fiskal yang memadai. Karena uang yang diharapkan dari SBN itu masuknya relatif lambat jadi tidak menjadi stimulus yang seperti diharapkan industri," jelasnya.
Memang , masalah yang jadi kendala utama dalam penyaluran stimulus fiskal ini adalah ketersediaan anggaran. Pemerintah tidak memiliki ruang fiskal yang memadai sedangkan anggaran yang dibutuhkan sangat besar.
"Di samping ada masalah administrasi bagaimana mencukupi sumber keuangan negara ini juga problem," kata Tauhid.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)