Fakta Ganjil-Genap Pasar, Pedagang Ingin Diskusi Bareng Anies

Fadel Prayoga, Jurnalis
Minggu 21 Juni 2020 08:20 WIB
New Normal di Pasar Tanah Abang. (Foto: Okezone.com)
Share :

JAKARTA - Aktivitas bisnis sudah kembali dimulai selama masa Pembatasan Sosial Berksala Besar (PSBB) transisi di wilayah DKI Jakarta. Hanya saja ada pembatasan, di mana pegadangan seperti di Pasar Tanah Abang harus mengikuti aturan ganjil-genap.

Jualan dengan skema ini pun menuai pro dan kontrak, di mana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ingin protokol kesehatan di tengah Covid tetap aman. Maka itu, kebijakan ganjil genap diberlakukan.

Okezone pun merangkum fakta-fakta ganjil genap dan seberapa efektivkah dalam pencegahan Covid-19, Minggu (21/6/2020):

1. Ganjil Genap Bikin Pusing

Pedagang Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat mengeluhkan jam operasional yang hanya diizinkan membuka toko dari pukul 07.00 hingga 14.00 WIB. Pasalnya, kebijakan pembukaan kios ganjil-genap saja sudah cukup mencekik pemasukan.

"Kalau bisa ya waktu operasional diizinkan seperti biasa, hingga pukul 17.00 WIB. Aturan kios ganjil-genap saja sudah bikin pemasukan berkurang," kata Rino salah satu pedagang baju muslim di pasar Blok F Tanah Abang.

2. Ini Alasan Kenapa Ganjil Genap Pedagang Penting

Pasar Rawasari atau Rawa Kerbau yang terletak di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, ditutup selama tiga hari karena 14 pedagangnya terpapar virus Corona (Covid-19). Mereka dinyatakan positif Covid-19 setelah mengikuti tes swab. Pasar tersebut kini menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.

Camat Cempaka Putih, Andri Ferdian pun berharap, format protokol kesehatan yang dibuat pengelola pasar sesuai dengan anjuran pemerintah. Misalnya saja memberlakukan sistem ganjil-genap terhadap kios, agar mengurangi kepadatan penjual atau pembeli.

"Saya sudah koordinasikan dengan kepala pasar toling gimana format ke depannya, minimal genap-ganjil untuk kurangi kerumunan pedagang dan pembeli, pintu keluar masuknya, penempatan westafel, penggunaan masker," kata Andri

3. Ganjil Genap Kurang Efektif

Pakar Epidemiologi dari Universitas Indonesia (FKM UI), Syahrizal Syarif tak sepakat dengan kebijakan ganjil-genap di pasar tradisional yang bakal diterapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi.

Pasalnya, dia menekankan, dalam memutus rantai penyebaran Covid-19 di pasar lebih kepada sebuah aturan kesehatan antara penjual dengan pembeli yang datang ke sana.

"Kurang setuju pasar dibuka ganjil genap. Yang harus diatur itu pembeli, pedagang harus didukung misalnya dibantu sarung tangan plastik dan faceshield," kata Syahrizal saat dihubungi Okezone.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya