5. Ketegangan Uni Eropa dengan Inggris semakin meningkat ketika Uni Eropa akan memulai tindakan hukum terhadap Inggris karena melanggar ketentuan Perjanjian Penarikan yang mengatur transisi pasca-Brexit. Para pemimpin Uni Eropa akan menolak untuk menyetujui posisi negosiasi Inggris saat ini tentang bantuan negara itu ketika masa transisi berakhir pada akhir tahun. Inggris dan UE tetap terpecah karena masalah bantuan negara, yang menjadi poin penting dalam negosiasi perdagangan. UE akan mengambil langkah proses hukum terhadap Inggris karena melanggar ketentuan Perjanjian Penarikan dari blok tersebut. Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan tidak memiliki terobosan untuk diumumkan dalam pembicaraan Uni Eropa dengan Inggris. Tetapi dia tetap optimis bahwa kesepakatan perdagangan baru masih mungkin dilakukan sebelum akhir tahun.
6. Saat ini diperkirakan Investor akan lebih memperhatikan saham dan obligasi Asia dibandingkan pasar Amerika Serikat. AS saat ini menghadapi risiko pemilu dan valuasi yang mahal. Pasar Asia terlihat lebih menarik karena pemulihan ekonomi dan pendapatan yang kuat dan valuasi yang jauh lebih murah. Data ekonomi China yang baik di tambah virus covid 19 terkendala di sebagian Negara kawasan Asia seperti di Korea Selatan, Taiwan dan Hongkong.
7. Sedikit berbeda dengan sebagain kawasan Asia Indonesia dan Filipina masih belum dapat menjinakkan pandemi covid 19. Chief Economist for East Asia and Pacific Bank Dunia Aaditya Mattoo menyatakan Indonesia dan Filipina belum sukses menangani pandemi sehingga tidak akan menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi dalam waktu dekat.
8. Sebelumnya Bank Dunia merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi -1,6 % dari 0,0% di tahun 2020 dan tumbuh 4,4% dari 4,8 % di tahun 2021. Data yang keluar menunjukkan selama tiga bulan berturut-turut sejak Juli, Agustus hingga September 2020 Indonesia mengalami Deflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi deflasi pada September 2020 di level 0,05%, sehingga terjadi deflasi selama triwulan III 2020. Pada Juli terjadi deflasi sebesar 0,10% dan Agustus 0,05%. Tingkat inflasi dari tahun kalender berada di angka 0,89% dan secara tahunan (year on year) tingkat inflasi berada di level 1,42%. Deflasi merupakan tanda lemahnya daya beli masyarakat akibat pandemi.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)