Perdagangan Perdana, Begini Nasib Saham Pemilik Tambang Nikel BCL-Raisa

Aditya Pratama, Jurnalis
Jum'at 09 Juli 2021 16:25 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (Foto: Antara)
Share :

JAKARTA - Harga saham PT PAM Mineral Tbk mengalami kenaikan pada perdagangan perdana. Harga saham NICL ini meningkat 35% atau menembus auto reject atas (ARA).

Dilihat melalui RTI, saham NICL mengalami kenaikan sebesar Rp35 atau 35,00% ke Rp135 per lembar pada hari pertama penawaran perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Baca Juga: Saham Pemilik Tambang Nikel Raisa, BCL dan Syahrini Tembus ARA

Frekuensi perdagangan saham NICL mencapai 13 kali dengan 236.200 lembar saham diperdagangkan dan nilai transaksi mencapai Rp31,89 juta. Price Earning Ratio (PER) -92,73 dan market cap sebesar Rp1,30 triliun.

Adapun, Perseroan melepas sejumlah 2 miliar saham kepada publik atau setara dengan 20,7% dari modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan, dengan harga Rp100 per saham. Perseroan menunjuk PT Danatama Makmur Sekuritas selaku Penjamin Pelaksana Emisi (Underwriter).

Baca Juga: Melantai di BEI, Pemilik Tambang Nikel Raisa-BCL Incar Peluang Bisnis Mobil Listrik

Dari aksi korporasi ini, Perseroan akan menerima dana segar sebesar Rp200 miliar, dimana dana yang diraih Perseroan dari IPO ini setelah dikurangi biaya emisi, utamanya sekitar Rp72 miliar akan dipergunakan untuk pengembangan usaha perseroan dan anak perusahaan, IBM, yakni sebesar 30% untuk eksplorasi penambahan cadangan bijih nikel di area blok kerja perseroan.

Blok kerja tersebut antara lain blok yang diberi nama BCL, Raisa, Kartini, Tiara, dan Syahrini dengan total luas sekitar 51 hektare yang berada di dalam area pertambangan dengan IUP atas nama perseroan di Morowali, dan sekitar 70% akan dipergunakan oleh Entitas Anak, PT Indrabakti Mustika (IBM), untuk program eksplorasi lanjutan pengeboran spasi detail (infill drilling) penambangan cadangan bijih nikel di area blok kerja Kolaka Cendana, Longori, Silae, Komia, Kuma, Kondole dengan total luas 183 hektare di Konawe Utara. Kedua pengembangan usaha itu direncanakan dimulai pada paruh kedua 2021.

Sementara itu, sisanya akan digunakan sebagai modal kerja (working capital) untuk operasional perseroan, anak perusahaan, IBM, yakni sebesar 72% untuk modal kerja untuk operasional Perseroan dan sebesar 28% untuk modal kerja untuk operasional Entitas Anak, IBM. Biaya operasional tersebut di antaranya seperti biaya kontraktor, biaya QAQC, biaya pengapalan, dan biaya operasional lainnya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya