Penunjukkan ini terjadi ketika Iran berupaya melanjutkan ekspor bahan bakar ke Afghanistan. Tentu, bantuan luar dimungkinkan akan memerlukan dukungan bank sentral untuk mengelola likuiditas mata uang Afghani terhadap Dolar AS.
"Jika ketidakpastian (ekonomi) terus ada, maka banyak nasabah menarik dana dari bank dan tentu akan membutuhkan dukungan besar dari bank sentral," kata seorang bankir yang tidak mau disebutkan namanya.
Sebagai informasi, Taliban tengah berupaya meminta para spesialis, pakar, dan ahli di bidangnya masing-masing untuk tetap bekerja bersama mereka untuk memulihkan perekonomian.
Setelah Taliban menguasai ibu kota Kabul, banyak warga Afghanistan berjuang untuk bertahan hidup di tengah krisis hilangnya pekerjaan, bank-bank yang masih tutup, dan lonjakan harga kebutuhan pokok.
Pemerintah Afghanistan sebelumnya diketahui sudah tidak membayar para pekerjanya selama dua bulan terakhir sebelum Taliban mengambil-alih.
Ketidakpastian politik dan ekonomi yang rapuh membuat nilai mata uang lokal Afghani jatuh terhadap dolar dan mendorong warganya berbondong-bondong keluar dari negara itu.
(Dani Jumadil Akhir)