4 Tantangan Usai Merger Pelindo

Antara, Jurnalis
Senin 04 Oktober 2021 07:41 WIB
4 tantangan merger Pelindo (Foto: Shutterstock)
Share :

JAKARTA - Merger Pelindo akan menimbulkan sejumlah tantangan. Sebagaimana diketahui, PT Pelabuhan Indonesia I (Persero), PT Pelabuhan Indonesia II (Persero), PT Pelabuhan Indonesia III (Persero), dan PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) melakukan merger.

"Pertama, peningkatan dan standardisasi pelayanan di semua pelabuhan Pelindo yang didukung standardisasi proses, SDM, dan teknologi (fasilitas) dengan sistem informasi yang terintegrasi, baik antarpelabuhan maupun antara pelabuhan dan pengguna," kata Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi dilansir dari Antara, Senin (4/10/2021).

Baca Juga: Erick Thohir Blak-blakan Alasan Merger Pelindo I-IV

Setijadi mengatakan, yang kedua adalah penataan hub & spoke kepelabuhanan Indonesia, dengan tantangan utama mengurangi pelabuhan pintu ekspor-impor. Pembatasan menjadi hanya 2-5 international hub port akan meningkatkan volume barang secara signifkan di beberapa pelabuhan hub ini yang berpotensi menarik direct call untuk mother vessel.

Dia menyatakan hal itu bisa menjadi strategi penting meningkatkan daya saing pelabuhan Indonesia secara global, termasuk mengalihkan pengiriman yang selama ini melalui Singapura. Upaya itu harus dibarengi dengan penataan jaringan pelabuhan pengumpan (spoke)-nya bukan hal mudah, namun perlu menjadi prioritas dalam jangka panjang.

Baca Juga: Daftar Direksi dan Komisaris Pelindo Hasil Merger: Arif Suhartono Jadi Dirut, Marsetio Komut

Ketiga, pengembangan sistem transportasi multimoda. Pelindo dapat berperan mendorong integrasi pengiriman barang secara end-to-end dengan melibatkan perusahaan pelayaran dan operator transportasi jalan dan rel untuk meningkatkan efisiensi secara keseluruhan.

Analisis Pelni dan INSA menunjukkan biaya kepelabuhanan sekitar 31% dan biaya transportasi laut sekitar 19%, sementara biaya transportasi hinterland mencapai sekitar 50%.

Keempat, kontribusi terhadap pengurangan kesenjangan perekonomian antarwilayah. Pada tahun 2020, misalnya, distribusi Produk Domestik Bruto masih didominasi wilayah Jawa (58,75%) dan Sumatera (21,36%).

Setijadi menambahkan, SCI mengapresiasi keberhasilan Menteri BUMN Erick Thohir melakukan merger BUMN layanan jasa pelabuhan itu.

Ia berharap Pelindo akan berperan melalui pelabuhan-pelabuhannya di empat wilayah yang berkontribusi terhadap PDB masih rendah, yaitu Kalimantan (7,94%), Sulawesi (6,66%), Bali-Nusa Tenggara (2,94%), dan Papua (2,35%).

"Menurut UU No. 19/2003 tentang BUMN, selain mengejar keuntungan, salah satu maksud dan tujuan pendirian BUMN lainnya adalah memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya," katanya pula.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya