Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia Anindya Bakrie menjelaskan dalam pertemuan dengan Tony Blair juga dibahas mengenai Konferensi Tingkat Tinggi Business 20 (B20) tahun 2022 di mana Indonesia menjadi presidensi atau tuan rumahnya.
Oleh karena itu, pihaknya ingin mengundang mantan PM Inggris itu untuk menjadi International Advocacy Caucus (IAC) B20 2022. Tony Blair sendiri kini menjabat sebagai Executive Chairman of the Tony Blair Institute for Global Change.
"Dengan pengalaman beliau selama ini tentu akan banyak sumbangsih dan pemikiran berharga yang bisa beliau dan lembaganya berikan," katanya.
Menurut Anindya, presidensi Indonesia di G20 ini penting karena selain memperkuat citra positif dan kepemimpinan Indonesia di dunia, juga bisa menampilkan kemajuan pembangunan dan menarik investasi ke Indonesia.
"Seperti temanya recover together, recover stronger. Indonesia tidak hanya akan memulihkan ekonominya sendiri tetapi juga negara lainnya atau pemulihan secara global," papar Anindya yang juga Ketua APEC Business Advisory Council (ABAC) Indonesia.
Anindya menambahkan, pertemuan dengan Tony Blair juga membahas soal ibu kota baru Indonesia. Tony sendiri bersama CEO SoftBank Masayoshi Son dan Putra Mahkota Uni Emirate Arab Syekh Mohammed bin Zayed Al Nahyan ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai dewan pengarah proyek pembangunan ibu kota baru Indonesia.
"Selain capital modal, capital city atau ibu kota baru ini juga penting. Semoga ini bisa jadi langkah awal transformasi Indonesia menjadi negara maju," kata Anindya.
Anindya mengungkapkan selain dengan Tony Blair, selama di Inggris delegasi Kadin juga akan menghadiri berbagai acara dan bertemu berbagai pihak, di antaranya dengan Confederation British Industries (CBI) dan para pemimpin bisnis lainnya membicarakan soal fintech, capital market, transportasi dan energi terbarukan, kemudian ditutup dengan menghadiri pertemuan COP26 di Glasgow.
"Semoga semua upaya kami ini bisa membantu pemulihan ekonomi, dan bukan cuma pulih kita juga mampu bertransformasi menjadi lebih maju lagi," tutup Anindya.
(Taufik Fajar)