JAKARTA - Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto resmi menutup perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) 2021 pada hari ini, Kamis (30/12/2021).
Turut mendampingi Menko Airlangga yakni Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri BUMN Erick Thohir, Ketua dewan Otoritas Jasa Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Direktur Utama BEI, dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.
Mewakili Presiden Jokowi, Menko Airlangga menyampaikan sejumlah perkembangan ekonomi dan pasar modal. Mengenai ekonomi global, berbagai tantangan dari harga energi, disrupsi supply chain dan krisis properti di China Evergrande yang efeknya akan lebih terasa di 2022.
Baca Juga: BEI: IHSG Melesat 10,4% hingga 54 Emiten IPO Raih Rp62,6 Triliun di 2021
"Kemudian kita ketahui bahwa tingkat suku bunga di Amerika lebih rendah dari inflasi, kita melihat ada potensi tapering off dari The Fed. Di kuartal ketiga, kita mendapat varian Delta yang efeknya yang luar biasa ke sektor kesehatan sekitar Rp100 triliun," ujar Airlangga dalam Peresmian Penutupan Perdagangan BEI Tahun 2021.
Airlangga menambahkan bahwa telah terjadi optimisme dalam penanganan virus Covid-19 yang di bulan Juli tercatat sudah 56 ribu dengan penurunan kasus lebih dari 90%. Bahkan sudah 4 bulan kasus rata-rata dibawah 100.
Hal itu membuahkan hasil dari berbagai survei dan penelitian terhadap pemerintah ini yang tertinggi lebih dari 70%. Kemudian dari pertumbuhan ekonomi di kuartal III menjadi 3,5% dan juga dari segi demand terhadap perbaikan, produksi manufaktur di level ekspansi menjadi 53,9% yang jauh lebih tinggi dibanding sebelum pandemi 51%.
Baca Juga: Catatan OJK di Sektor Jasa Keuangan Sepanjang 2021
"Kita melihat harga barang dan jasa relatif baik dan inflasi kita di 1,75 persen secara year on year dan ini menunjukkan berbagai kegiatan sudah mulai pulih, survei BI average daripada rasionya sebesar 76,1 persen di bulan November," katanya.
Disisi lain penerimaan pajak saat ini mencapai Rp1.231,87 triliun atau 100,19 persen dari target Rp1.122,9 triliun dan ini belum pernah terjadi dalam 12 tahun terakhir juga disaat pandemi.
Dari sisi perbaikan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mencapai rekor Rp6.723.
"Tentunya return dari Bursa Efek Indonesia year to date nya 10 persen, nah kinerja ini tentu perdagangan pasar terjadi peningkatan 7,38 juta daripada investor dimana masuknya ini investor ritel dan tentu ini kinerja IPO," kata Airlangga.
Aset di pasar modal dikuasai investor dalam negeri, maka itu pemerintah dengan UU Cipta Kerja sudah mendirikan INA yang merupakan mesin untuk investasi panjang.
Pemerintah juga melanjutkan program PEN, dimana tahun depan disiapkan melalui kebijakan APBN sebesar Rp414 triliun.
"Pemerintah optimis di tahun 2022, insya Allah pertumbuhan ekonomi bisa didorong ke 5,2 persen dan untuk itu sekali lagi selamat kepada stakeholder pasar modal yang di dalam pandemi Covid-19 ini kita rebound-nya relatif cepat," tutup Airlangga.
(Taufik Fajar)