JAKARTA - Bank Indonesia (BI), menyatakan bahwa tantangan global dikhawatirkan akan mempengaruhi stabilitas moneter di dalam negeri.
Hal ini tercermin dari revisi ke bawah angka pertumbuhan ekonomi global oleh International Monetary Fund (IMF) menjadi 4,4% pada 2022.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan bahwa tantangan tensi geopolitik, terutama di Eropa Timur, akan mempengaruhi proses pemulihan ekonomi, baik di tingkat global maupun di dalam negeri.
Kemudian lanjut dia, tantangan global lainnya berasal dari normalisasi kebijakan negara maju yang akan mempengaruhi proses pemulihan dan menghambat aliran portofolio asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
“IMF sudah revisi ke bawah pertumbuhan ekonomi global mempertimbangkan tensi geopolitik, juga (meningkatnya Covid-19 varian baru) Omicron,” katanya dalam acara Focus Group Discussion (FGD), Kamis (24/2/2022).
Menurut Perry, BI pun telah melakukan kajian tantangan global tersebut dan memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan mencapai 4,4% pada tahun ini.
Namun, Perry mengatakan dampak dari tensi geopolitik ke kinerja ekspor Indonesia tidak akan signifikan, mengingat ekspor Indonesia yang berbasis komoditas.
BI sendiri optimistis, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini akan mencapai kisaran 4,7% - 5,5%. Lebih lanjut, Perry menyampaikan dampak dari risiko global ke stabilitas sistem keuangan dan eksternal Indonesia juga masih terbatas. Hal ini tercermin dari masih masuknya aliran modal asing, baik ke pasar SBN maupun saham, di tengah peningkatan tingkat imbal hasil US Treasury.
Di samping itu, dampak ke nilai tukar rupiah, kata Perry, masih terkendali. Nilai tukar rupiah pada awal tahun ini cenderung stabil, bahkan menguat.
“Kenapa nilai tukar stabil bahkan menguat, karena fundamental kita bagus, current account rendah, bahkan surplus, neraca perdagangan surplus, berarti supply dolar di pasar melebihi demand," pungkas Perry.
(Taufik Fajar)