Upaya lain yang akan dilakukan pengusaha menghadapi pasokan gandum yang terbatas jika krisis berlangsung panjang adalah mencari substitusi gandum. Gapmmi selama ini memberlakukan kontrak jangka panjang terkait impor gandum. Namun, gangguan logistik akibat krisis membuat pengusaha harus mencari alternatif-alternatif lain.
Lebih lanjut Adhi mengatakan bahwa ada beberapa dampak tidak langsung yang akan dirasakan jika krisis berlangsung berkepanjangan, termasuk naiknya harga komoditi substitusi. "Global value chain akan terganggu dan kenaikan harga jual produk pangan olahan dan akan tercermin dalam inflasi. Perlu upaya efisiensi di semua lini untuk mengurangi beban," lanjutnya.
"Bila terpaksa, maka kenaikan harga jual tidak bisa dihindari. Ini jalan terakhir," imbuhnya.
Data World Instant Noodles Association (WINA) per 11 Mei 2021 dan diakses pada 3 Maret 2022 menyatakan bahwa Indonesia adalah negara pengonsumsi mi instan terbesar kedua di dunia dengan jumlah konsumsi mencapai 12.640 juta porsi pada tahun 2020. Cina berada di urutan pertama menurut daftar itu dengan jumlah konsumsi 43.350 juta porsi. Sementara Vietnam di urutan ketiga dengan 7.030 juta porsi, menyusul India dan Jepang.
Mengurangi margin keuntungan
Sebagai negara yang sangat bergantung dengan impor gandum, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengatakan krisis ini akan memengaruhi harga makanan di Indonesia.
"Tergantung dengan ketersediaan pasokan gandum yang ada saat ini, jika masih ada stok maka harga makanan bisa tidak naik. Tapi kalau stoknya tidak ada, ini yang harus diantisipasi," ujar Bhima kepada DW Indonesia.
Ada tiga opsi yang dapat dilakukan produsen makanan dalam negeri menghadapi lonjakan harga gandum dan produk impor lainnya. Pertama, produsen harus siap menekan margin keuntungan yang selama ini diperoleh sehingga harga jual ritel tidak ikut naik.
"Margin produksi harus ditipiskan, produsen harus melihat dulu apakah konsumen siap dengan harga jual ritel yang baru jika harga pokok produksi naik," imbuhnya.
Opsi kedua menurut Bhima, produsen perlu mempertimbangkan kualitas dan kuantitas makanan berbahan gandum seperti mengurangi ukuran makanan yang diproduksi. Sementara opsi ketiga tidak lain adalah pemberian informasi kepada konsumen bahwa harga produk akan terpaksa dinaikkan.
"Selain Amerika bagian barat masih mengalami kekeringan, waktu untuk switch import ke negara lain tidak ada. Akan lebih baik ke depan produsen makanan bisa melakukan kontrak jangka panjang untuk harga impor sehingga kondisi apa pun tetap berlaku harga awal tidak menggunakan referensi harga baru," lanjutnya.
Dampak jangka panjang
Jika konflik ini terus berkepanjangan, Bhima tidak menampik akan ada implikasi lainnya seperti penurunan pendapatan dari pajak makanan dan produk turunannya. CELIOS memprediksi bahwa kenaikan harga gandum akan menjadi tren selama setahun ke depan, sebagai dampak kenaikan harga minyak mentah yang mengakibatkan naiknya biaya pengiriman.
"Dampak dari minyak berimbas juga ke gandum. Pemerintah melalui Bulog harus mengantisipasi ini, menjual dengan harga subsidi untuk konsumsi masyarakat jika nanti terjadi kenaikan harga," jelasnya.
(Taufik Fajar)