Nasib Pedagang Makanan di Tengah Polemik Minyak Goreng yang Belum Usai

Bachtiar Rojab, Jurnalis
Rabu 23 Maret 2022 17:16 WIB
Ilustrasi minyak goreng. (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Polemik minyak goreng kian memanas saat ini, apalagi pemerintah telah mencabut HET untuk minyak goreng kemasan.

Diketahui, Indonesia merupakan negara penghasil minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terbesar di dunia.

Namun, alih-alih menjadi negara dengan ketersedian minyak goreng berkualitas yang melimpah ruah, justru malah menjadikan warganya berpaling ke minyak goreng curah.

 BACA JUGA:Ini 5 Produsen Minyak Goreng Terbesar di Indonesia

Polemik tersebut banyak berimbas kepada masyarakat, baik itu bagi ibu rumah tangga, hingga pedagang makanan yang begitu mengandalkan minyak goreng.

Seorang pemilik warung nasi bernama Asih (43) mengaku, dirinya memutar otak karena minyak goreng langka di pasaran.

"Pas minyak langka itu saya sempet seharian pas orang-orang lagi ngantri-ngantri itu saya cuman setok setengah liter," ujar Asih kepada Okezone, Selasa (22/3/2022).

Bahkan, dengan kelangkaan minyak goreng yang terjadi di Indonesia, membuat dia menyiasati dagangannya dengan mengganti teknik menggoreng menjadi merebus atau mengukus.

"Kalau saya yang jualan saya siasati dengan dagang ayam yang biasanya goreng jadi saya bikin gulai, terus biasanya ada tahu tempe goreng itu saya jadikan tempe bacem, ikan pun saya jadikan pepes ikan," tambahnya.

Asih menjelaskan, dia terpaksa membeli minyak goreng alternatif lain guna menjaga dagangannya agar tetap komplit di tengah keterbatasan minyak goreng.

"Nah setelah itu tiba-tiba banyak minyak curah di pasar, saya akhirnya beli itu karena kemahalan. Minyak turah saya beli Rp20rb per satu kilo. Tapi besoknya naik lagi jadi Rp22rb," ucapnya.

Adapun permasalahan minyak goreng tidak hanya dirasakan oleh kalangan ibu-ibu saja. Salah satu pelaku pengamanan yakni tukang parkir juga merasakan dampaknya.

 BACA JUGA:Serikat Buruh: Jangan Bunuh Kami dengan Minyak Goreng Curah

Menurut Cipto (40) yang merupakan tukang parkir mengatakan, dia menjadi banyak ditanyai oleh ibu-ibu terkait ketersediaan minyak goreng.

"Itu ibu-ibu pada datang kan sampai ngantri juga, tiba-tiba sampai saya banyak ditanyain kan sama ibu-ibu, ada minyak goreng ga, ada minyak goreng ga," ucapnya.

Di balik hal tersebut, salah seorang penjaga minimarket Dian (23) mengaku ikut kebingungan saat terjadi kelangkaan minyak goreng.

Dia mengatakan ketentuan yang diberlakukan pihak minimarket terkait jatah pembelian minyak goreng sering diacuhkan oleh masyarakat.

"Kadang saya ga ngeuh tuh, kan dijatah kan satu orang dua liter. Soalnya kadang suka ada yang balik lagi beberapa kali. Cuman kadang ga ketauan juga kan. Kan kalau kita dua shift," tuturnya.

Lanjutnya, jika ada yang ketahuan pun, pihak minimarket hanya berani menegur tanpa memberikan sanksi apapun dikarenakan ruwetnya suasana pada momen kelangkaan minyak goreng.

"Tapi kalau ketahuan ya paling ditegor, sempet ada beberapa orang yang kaya gitu itu kita tegor. Paling ya kita langsung kasih tau aja ini perorang 2 liter ya," bebernya.

Seperti diketahui, Pada 1 Februari melalui Permendag No 6/2022, Harga Eceran Tertinggi minyak goreng diatur dengan rincian migor curah sebesar Rp11.500/liter, kemasan sederhana sebesar Rp13.500/liter, dan kemasan premium sebesar Rp14.000/liter

Namun di tengah kelangkaan minyak goreng di pasaran, pemerintah akhirnya memutuskan hanya mengatur harga minyak goreng curah sebesar Rp 14.000/ liter dengan bantuan subsidi seusai diumumkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Selasa 15 Maret 2021.

Sementara, harga minyak goreng kemasan sederhana dan premium dilepas sesuai harga pasar yang sedang tinggi. Per 17 maret 2021 harga Minyak Goreng kemasan di pasaran sebesar Rp 24.000/liter.

(Zuhirna Wulan Dilla)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya