Itu bisa tercermin dari catatan Bank Indonesia soal transfer atau Remitansi yang dilakukan para pekerja migran ke Indonesia.
"Mereka punya kemampuan membayar, mereka punya pendapat tetap, sudah melek juga teknologi, Kalau sudah cukup institusi keuangan, mengapa dalam tahun terakhir kelihatannya kinerja dari institusi kita masih jalan ditempat," bebernya.
INFID melakukan survey online pada lebih dari 100 orang responden selama kurang lebih 4 bulan pada pekerja migran.
Selain itu ada 60 orang responden lain secara sukarela.
"Kami menemukan ada sekitar 60% lebih lebih belum tercakuop di anggota bp jamsos, antara 2,5 hingga 3 juta orang," lanjutnya.
Temuan kedua, para pekerja migran yang gagal menjadi anggota, salah satu alasannya karena mereka tidak mendapatkan informasi.
Kalau pun ada yang memperoleh tapi secara faktual nyata mereka tidak bisa mengakses layanan tersebut, karena belum ada aplikasinya untuk melakukan pendaftaran.
"Banyak kasus mereka sudah Anggota, tapi mereka gagal untuk melakukan klaim, terkahir mereka tidak bisa mendaftar," pungkasnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)