"Mengapa ini terjadi, karena memang kami kesulitan untuk mendapatkan sumber pendanaan untuk menangani preservasi jalan," lanjut Hedy.
Sekedar informasi Total pagu Indikatif Ditjen Bina Marga pada tahun 2023 sebesar Rp40,24 triliun, 94,11% setara Rp37,87 triliun untuk penanganan masalah konektivitas, dan sebanyak 2,37 triliun atau 5,89% dari pagu Indikatif untuk dukungan manajemen.
Sedangkan anggaran untuk presevasi jalak dan jembatan mendapat porsi alokasi anggaran sebesar Rp24,64 triliun atau sebesar 61,22% dari total pagu indikatif tahun 2023.
"Jadi kalaupun kemantapan kita stagnan, atau turun sedikit, atau naik sedikit, itu yang besarnya ada di jalan kondisi sedang, dan ini secara fundamental saya kira harus kita perbaiki komposisi ini, karena jalan sedang ini relatif marjinal, mudah turun menjadi jalan yang rusak ringan," pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)