"Mereka mengalami rawan pangan akut, yang aksesnya ke untuk mendapat pangan dalam jangka pendek sangat terbatas hingga nyawa dan mata pencaharian mereka terancam, ini meningkat menjadi 345 juta di 82 negara menurut WFP," ungkapnya.
Dia mengatakan sebanyak 25 negara lainnya terdampak akibat pembatasan ekspor. Menurutnya, hal ini memperparah krisis pangan hingga dua kali lipatnya.
"Pasokan (pangan) global yang terus meningkat selama dekade terakhir perlu dilepaskan untuk menurunkan harga. Semua ini terjadi pada saat ruang fiskal untuk tindakan pemerintah sudah sangat dibatasi setelah pandemi Covid-19," tukas dia.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)