JAKARTA - Baru-baru ini masyarakat dikhawatirkan dengan kabar harga mi instan bakal naik tiga kali lipat.
Adapun kabar ini diakui penjual Bakmi begitu mengerikan.
Seorang penjual bakmi di Cengkareng, Desvi khawatir kalau harga mi instan akan naik tiga kali lipat karena bakal berdampak ke usahanya.
"Kok bisa naik tiga kali lipat? Saya khawatir dong. Soalnya gandum, beras, itu sudah kebutuhan pokok," ujar Desvi dikutip BBC, Jumat (12/8/2022).
BACA JUGA:Bantah Harga Mi Instan Bakal Naik 3 Kali Lipat, Mendag: Itu Supaya Kita Makan Singkong
Diketahui, Desvi sendiri sudah berjualan bakmi selama 10 tahun lamanya.
Dia bisa menjual bakmi tersebut sampai 30 porsi dalam sehari.
Kemudian, Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa mengatakan konsumsi gandum di Indonesia dalam 30 tahun mendatang bisa mencapai 50% atau mengalahkan beras.
Dia juga mencatat angka konsumsi pangan lokal dari gandum di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.
Di mana pada 1970-an porsi pangan lokal dari gandum di bawah 5%, pada 2010 sudah di angka 18%.
Dia juga menjelaskan kalau selang 10 tahun kemudian atau pada 2020, menurut data yang dimiliki Andreas, konsumsi gandum di masyarakat mencapai 26% dan tahun ini lebih dari 27%.
Menurutnya, membesarnya tingkat konsumsi gandum ini karena beberapa hal.
Pertama karena harganya murah. Sebelum konflik Ukraina dan Rusia meletus, harga tepung gandum berada di kisaran antara Rp8.500 - Rp9.000. Sementara tepung sorgum dan tapioka berkisar di antara Rp16.000 - Rp30.000 perkilogram.
Sehingga jika dibandingkan dengan beras kualitas medium, masih lebih murah.
"Lebih rendah dibanding beras medium yang harganya Rp10.400," ucapnya.
Lalu, yang kedua karena sesuai dengan selera orang Indonesia.
"Gandum ini mengubah selera dan pola makan. Itu dilakukan industri gandum puluhan tahun dengan mengeluarkan dana ratusan triliun. Anak sekarang disuruh makan pecel yang merupakan pangan lokal kita mau tidak? Tidak kan. Tapi kalau ditawari pizza, pasti langsung mau," jelasnya.