Namun, kontribusi terbesar Erick adalah ikut mengungkap skandal mega korupsi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero).
Korupsi Jiwasraya telah merugikan negara sebesar Rp16,8 triliun.
Sementara kasus Asabri merugikan negara senilai Rp22,78 triliun.
"Seperti awalnya contoh kita ingin melihat dana pensiun kita, harus diperbaiki kenapa? Justru di kuartal IV 2019, saya baru menjabat kita bersih-bersih BUMN yang namanya Jiwasraya lalu Asabri itu kan penting," ungkapnya.
Transformasi lainnya, lanjut Erick, menggabungkan Holding BUMN Farmasi dan Rumah Sakit BUMN.
Meski belum terealisasi, pemerintah terus mencoba agar kedua sektor kesehatan itu dikonsolidasikan dalam satu klaster.
Dia menjelaskan integrasi Rumah Sakit BUMN dan Holding BUMN kesehatan akan membentuk ekosistem yang memperkuat ketahanan dan kemandirian kesehatan nasional.
Integrasi tersebut menjadi kekuatan untuk menghalau krisis kesehatan akibat Covid-19 kedepannya.
"Lalu kita konsolidasi di kuartal IV 2019 mengenai rumah sakit BUMN yang tadinya terpencar menjadi satu dan itu turut membantu pada saat Covid, dimana jumlah tempat tidurnya 50 persen pada saat Covid, dimana pihak lain hanya berapa persen waktu itu," bebernya.
Pemerintah pada awal 2020, telah membentuk Holding BUMN Farmasi dengan menjadikan PT Bio Farma (Persero) sebagai induknya, sementara Kimia Farma (KAEF) dan Indofarma (INDF) menjadi anggota holding.
Tak hanya itu, Erick juga mencatat pendirian PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) yang merupakan gabungan atas Bank Syariah BUMN, pun menjadi bukti transformasi BUMN.
(Zuhirna Wulan Dilla)