3. Milan, Italia
Italia adalah salah satu negara yang paling terpukul pada awal masa pandemi, dan kota-kotanya harus beradaptasi dengan cepat untuk menyediakan alternatif transportasi umum.
Pada musim panas 2020, Milan memulai rencana ambisius untuk melebarkan trotoar dan memperluas jalur bersepeda sepanjang 35 km.
Perubahan tersebut telah mengubah kota itu, menghadirkan lebih banyak tempat makan di luar ruangan, pasar terbuka, dan taman kota. "Ini bukan Milan yang saya ingat dari 10 tahun lalu selama masa kuliah saya," kata penduduk Luisa Favaretto, pendiri situs Strategistico.
"Saya menyukai konsep kota 15 menit [rencana yang juga telah dieksplorasi Milan] dan tertarik dengan infrastruktur kota yang berkembang dengan memprioritaskan orang daripada mobil," lanjutnya
Dia melihat pertumbuhan dalam apa yang dia sebut rasa komunitas "dunia lama", karena ada lebih banyak alasan untuk berada di luar ruangan dan bertemu di ruang komunal.
Distrik CityLife, yang baru-baru ini dibangun, bukan hanya menjadi area bebas kendaraan bermotor terbesar di Milan tetapi juga salah satu zona bebas mobil terbesar di Eropa.
"Tempat itu dipenuhi dengan ruang hijau publik bersama dengan banyak jalur sepeda, dan menawarkan pandangan sekilas ke masa depan Milan yang berkelanjutan," kata Favaretto.
4. San Francisco, Amerika Serikat
Kota di California utara ini bergerak cepat di awal pandemi untuk meluncurkan Slow Streets – sebuah program yang menggunakan rambu dan pembatas untuk membatasi lalu lintas dan kecepatan mobil di 30 koridor dalam upaya menjadikannya lebih ramah bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda.
Menurut data yang dikumpulkan oleh kota itu, program ini melihat pengurangan 50% lalu lintas kendaraan, peningkatan 17% lalu lintas pejalan kaki pada hari kerja dan lonjakan sebesar 65% lalu lintas pengendara sepeda pada hari kerja.
Meskipun banyak jalanan telah dikembalikan ke status pra-pandemi, penduduk mendorong untuk membuat empat bagian permanen, termasuk di Golden Gate Avenue, Lake Street, Sanchez Street, dan Shotwell Street. Pada bulan September, pemungutan suara akan diadakan untuk menentukan koridor-koridor lainnya.
"Sangat menyenangkan bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda motor untuk dapat berbagi jalan," kata Leith Steel, seorang penduduk setempat, soal jalan an yang masih ditutup. "Anda melihat keluarga berjalan-jalan, anak-anak bermain - itu adalah pengalaman yang jauh berbeda," tambahnya.
Dia juga mengatakan bahwa pemerintahan kota telah mengeluarkan dana dan upaya untuk membangun rute sepeda yang lebih baik dan ditandai dengan lebih jelas daripada sebelumnya.
(Taufik Fajar)