"Indonesia berkomitmen dalam memperjuangkan ketiga agenda utama G20 tahun ini yakni Global Health Architecture, Digital Economy Transformation, serta Energy Transition,” ujar Menko Airlangga.
Dia melanjutkan komitmen negara-negara G20 dalam Financial Intermediary Fund untuk Pandemic Prevention, Preparedness, and Response (PPPR) diwujudkan melalui peningkatan alokasi pendanaan.
“Di dalam negeri, Indonesia telah memprioritaskan agenda transisi energi dengan mengejar berbagai program seperti dekarbonisasi melalui coal-phase out, hydro power plant serta penjajakan kerjasama Carbon-Capture Utilization Storage (CCUS),” ujar Airlangga.
Menko Airlangga menilai ketahanan pangan Indonesia relatif kuat dengan adanya surplus produksi pangan dan ketersediaan pupuk untuk kedepannya.
Dia mengapresiasi upaya Sekjen PBB dalam pembentukan perjanjian Global Crisis Response Group (GCRG) dan Black Sea Initiatives yang akan berlangsung selama 120 hari dari bulan Juli hingga bulan November 2022 ini.
Menanggapi apresiasi itu, Sekjen Antonio Guterres optimistis bahwa pihak yang terlibat dalam hal ini akan menyetujui, dan berharap dapat mengumumkan segera perpanjangan perjanjian ini.
“Perpanjangan durasi perjanjian Black Sea Initiatives masih dibicarakan bersama dengan semua pihak, namun PBB optimis bahwa pihak yang terlibat akan menyetujui hal ini, dan semoga perpanjangan perjanjian tersebut dapat diumumkan segera. Dampak sanksi dunia terhadap sistem perbankan dinilai masih menjadi hambatan bagi ekspor komoditi produk pertanian seperti gandum dan juga bahan baku pupuk,” ujar Sekjen Antonio Guterres menanggapi apresiasi dari Menko Airlangga.
(Taufik Fajar)