JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa perkembangan industri logam sudah mulai terasa geliatnya. Industri ini dulu hanya menghasilkan Rp9,8 triliun, kini sudah melonjak hingga Rp37 triliun.
Menurut Pengamat Energi Terbarukan Dewanto Indra Krisnadi mengatakan, meningkatnya industri logam tidak lepas dari kebijakan hilirisasi tambang oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hal ini tercermin dari pendapatan industri logam sebelumnya hanya Rp9,8 triliun, dan kini melonjak hingga Rp37 triliun.
Menurut Dewanto, di satu sisi kebijakan hilirisasi ini membuat Uni Eropa resah karena kepentingannya terganggu dengan kebijakan Presiden Jokowi, tadi di sisi lain membawa keberkahan bagi Indonesia yang sedang bersiap menghadapi era kendaraan listrik mulai 2027 nanti.
"Nikel menjadi komponen penting dalam produksi baterai kendaraan listrik, dan sekaligus pendorong perubahan dalam pemanfaatan energi. Intinya hilirisasi tambang ini perlu didukung," kata Dewanto dalam keterangan tertulisnya Senin (5/12/2022).
Dikatakan, hilirisasi tambang ini kemudian diperkuat dengan kesepakatan dalam G20 beberapa waktu lalu yang mendorong percepatan transisi energi, dengan kendaraan listrik.
Karena itulah, hilirisasi nikel dan sumber daya alam lain di dalam negeri, mampu meningkatkan nilai investasi, dan pastinya akan membuka lapangan kerja dalam negeri dan meningkatkan pendapatan negara.
“Begitu investasi masuk tentu ini akan membuka lapangan pekerjaan dan menambah pendapatan. Otomatis seluruh masyarakat akan menikmati hasil ini," ucapnya.