JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir meminta penyelenggara usaha wisata tidak menomorduakan wisatawan lokal. Pasalnya, mereka mendominasi industri pariwisata nasional.
Dia mencatat jumlah wisatawan lokal mencapai 70% dari total wisatawan nasional.
Sementara 30% lainnya berasal dari wisatawan mancanegara (wisman).
”Sudah seharusnya, kita tidak menomorduakan turis kita sendiri atau turis lokal, kita selalu terpaku, turis lokal kita selalu dilayani menjadi turis kelas dua. Padahal data-data yang terlihat, pada pariwisata nasional, 70% itu merupakan turis lokal, hanya 30% luar negeri," ungkap Erick, Kamis (15/12/2022).
BACA JUGA:Erick Thohir: Lapangan Kerja Jadi Fokus BUMN
Terkait pengembangan pariwisata, lanjut Erick, BUMN memiliki beberapa strategi. Langkah taktis itu untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.
Dia mencontohkan strategi pengembangan wisata Samosir, Sumatera Utara.
Pertama, membangun Museum Bangsa Batak di Samosir. Pulau Samosir merupakan pusat kultural awal Suku Batak, sehingga cocok menjadi pusat pengembangan wisata yang nantinya mendorong perekonomian di Kawasan Danau Toba.
“Saya akan membangun Museum Batak di Samosir. Ini keberkahan kita pada saat menjunjung tinggi sebuah kebudayaan yang merupakan salah satu pondasi bangsa kita. Kebudayaan Batak itu yang sungguh kaya, penuh sejarah. Dan menjadi bagian dari kultur bangsa kita juga," kata dia.
Kedua, memetakan aset-aset BUMN yang sudah ada di Danau Toba.
Salah satunya adalah Hotel INNA Parapat Danau Toba. Keberadaan hotel tersebut diupayakan menjadi satu kesatuan dengan pariwisata nasional.
Ketiga, memperkuat ASDP Indonesia yang melayani ferry penyeberangan di Danau Toba. BUMN ini akan menerima penyerahan aset kepelabuhanan dari Kementerian Perhubungan sehingga seluruhnya dapat disinergikan.
Keempat, mempersiapkan perhelatan olahraga unik yang dapat menarik wisatawan dalam jumlah besar. Salah satunya adalah menyelenggarakan kompetisi sejenis Formula One khusus untuk kapal di Danau Toba.
“Ini tidak tanggung-tanggung, kami mengikat kontraknya tidak setahun, tetapi lebih dari 3 tahun. Ini bagian dari konsistensi dalam membangun pariwisata,” tuturnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)