JAKARTA - Harga emas turun pada akhir perdagangan Jumat. Hal ini memperpanjang kerugian dalam lima hari berturut-turut atau penurunan selama empat minggu beruntun.
Harga emas melemah karena investor bereaksi terhadap data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi AS yang lebih tinggi dari perkiraan.
Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Jadi Rp1.016.000, Ini Daftarnya
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April di divisi Comex New York Exchange turun USD9,7 atau 0,53% menjadi USD1.817,10 per ounce. Untuk minggu ini, kontrak berjangka emas kehilangan USD23,3 atau 1,80%.
Departemen Perdagangan AS mencatat bahwa Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi AS tidak termasuk makanan dan energi yang disebut Indeks PCE inti naik 0,6% dari bulan ke bulan dan 4,7% tahun ke tahun di Januari 2023. Sebelumnya pasar memperkirakan bahwa indeks PCE naik 0,5% dan 4,4%.
Baca Juga: Harga Emas Berjangka Anjlok Tertekan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga
Data inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi tentu membuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve akan berlanjut. Hal ini pun mendukung dolar AS menguat dan imbal hasil imbal hasil obligasi pemerintah AS naik.
Presiden Federal Reserve Cleveland, Loretta Mester juga mengatakan bahwa belum memutuskan apakah bank sentral menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada pertemuan berikutnya pada Maret.
"Laporan PCE menunjukkan bahwa Fed perlu berbuat lebih banyak. Sungguh menggembirakan bahwa inflasi menurun dari puncak (nya), tetapi dibutuhkan lebih banyak lagi," ujar Loretta, dikutip dari Antara, Sabtu (25/2/2023).