Selain semakin mengecilnya potensi resesi Indonesia, Nafan menyebutkan nilai tukar rupiah masih kuat meski berada di level Rp15.000. Kemudian, kata dia lagi, inflasi domestik juga masih stabil dan lebih rendah dari suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Kebijakan BI yang terus menjaga likuiditas turut memberikan optimisme. Faktor lainnya yang memberikan optimisme investor asing terhadap perekonomian Tanah Air, yaitu ketahanan eksternal Indonesia yang masih relatif kuat, seperti surplus transaksi berjalan dan surplus neraca perdagangan.
Pembukaan ekonomi Tiongkok juga akan membantu pemulihan permintaan, termasuk ke Indonesia, sehingga investor bisa semakin optimis. Disampaikan Nafan Aji, makroekonomi Indonesia dinilai masih akan terkendali mengingat faktor fundamental domestik. Beberapa faktor tersebut adalah meredanya inflasi inti domestik dan pertumbuhan ekspor yang lebih besar daripada impor, yang masih akan menjaga risiko dari kenaikan agresif suku bunga acuan AS (Fed Rate).
Dengan iklim yang lebih kondusif itu, IHSG yang mulai stabil menguat sejak awal tahun diprediksi akan melanjutkan penguatan.
“Secara teknikal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang flat pada Februari diprediksi akan terkonsolidasi dengan kecenderungan melemah (bearish consolidation) dengan rentang pergerakan 6.747-6.850 sepanjang Maret. Dari sektor yang ada, ada 5 sektor yang yang kami rekomendasikan karena berpotensi menguat yaitu barang konsumsi cyclical dan noncyclical, industri, kesehatan, serta keuangan,”jelasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)