JAKARTA - Menteri Investasi dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia buka suara soal dugaan permintaan upeti kepada para pengusaha tambang yang izin usaha pertambangan (IUP) dicabut.
Bahlil pun menduga, ada pihak yang sengaja mencatut namanya untuk meminta sesuatu ke pengusaha agar kembali menghidupkan IUP nikel.
"Ini yang kemarin terbit di beberapa media, ada dugaan yang disampaikan sebelumnya oleh salah satu media, bahwa ada yang mengatasnamakan saya, orang dalam atau orang dekat, bahkan ditenggarai saya, meminta sesuatu, dari penghidupan atau pengaktifan IUP nikel," terang Bahlil saat Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi VI DPR RI di Senayan, Jakarta, Senin (1/4/2024).
Diungkapkan Bahlil, dirinya juga sudah melaporkan media yang menyeret namanya itu ke ke Dewan Pers. Bahlil bilang, Dewan Pers pun telah memberikan keputusan agar media tersebut meminta maaf dan melakukan hak klarifikasi proporsional.
Bahlil juga mengaku telah melaporkan dugaan permainan IUP ini ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri agar kasus ini diungkap secara serius.
"Namun, agar tidak ada dusta di antara kita saya melaporkan ini ke Bareskirm. Dalam pandangan saya ini harus diungkap supaya jangan main-main," tegasnya.
Bahlil menuturkan, ada 2078 IUP yang diusulak dicabut. Dari jumlah itu, sebanyak 2.051 IUP dicabut, sementara 585 IUP dibatalkan pencabutannnya. Kemudian ada 33 IUP yang dihidupkan adalah tambang nikel.
"Jadi yang ditenggarai adalah, konon ceita, dari cerita media nasinal tersebut, ada 33 IUP nikel yang diaktifkan ini adalah memberikan upeti, katanya, tapi saya nggak yakin, memberikan upeti kepada orang-orang saya, dalam hal ini satgas. Jadi biar aja diproses, jadi kita akan memanggil 33 orang ini supaya kita uji, ini data yang benar yang mana karena kemarin saya sudah klarifikasi di media tesebut," papar Bahlil.
Bahlil bilang, proses hukum mengenai dugaan permainan IUP ini jga sudah berjalan. "Sekarang proses hukumnya berjalan karena ini menyangkut nama baik saya juga dan institusi yang saya pimpin, Jadi saya harus buka ini secara fair agar tidak ada persepsi yang di luar dugaan yang aneh-aneh," tutupnya.
(Feby Novalius)