Ternyata, kedatangan Radius Prawiro adalah dalam rangka diskusi rencana penerbitan sebuah buku. Radius Prawiro saat itu tengah menerbitkan sebuah buku.
"Itu ngagetin. Zaman Pak Soeharto itu seorang teknokrat kan 'Manusia Setengah Dewa'. Kita tuh masih rakyat jelata," cerita gelar Menteri Keuangan terbaik se-Asia tersebut.
Menurutnya, pengalaman memberikan eksposur kepada dirinya hingga menjadi seperti sekarang. "Ini jadi bekal. Dulu saya tidak bercita-cita menjadi menteri. Ibu saya selalu bertanya 'Kapan koe (kamu) jadi profesor?'," ujarnya sambil menjelaskan bahwa profesi yang paling top di mata sang Ibunda adalah bisa menyandang gelar Profesor.
Sekadar diketahui, ibunda Sri Mulyani (almarhumah) adalah Prof Dr Retno Sriningsih Satmoko dan ayahanda adalah Prof Drs Satmoko (almarhum) adalah pendidik yang ikut mendirikan dan membesarkan IKIP Semarang yang sekarang menjadi Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Waktu terus berjalan dan kemudian Sri Mulyani didapuk menjadi menteri. Meski sudah masuk kabinet, namun di mata sang Ibunda tetaplah gelar Profesor adalah yang paling bagus.
"Menteri itu ketoe apik (kelihatannya bagus). Tapi bagusan profesor," ucap Sri Mulyani menirukan gaya sang Ibu.
"Al-fatihah buat Ibu saya," tutup wanita yang pernah menjabat di World Bank atau Bank Dunia.
(Taufik Fajar)